Ini Langkah Meruntuhkan Bangunan Rad1kal1sme di KPK

Baca Juga

Ngajionline.net - Pimpinan KPK cuci Novel lewat Idham Aziz dan Suhardi Alius.
Menarik sekali gebrakan di akhir masa jelang lengser Pimpinan KPK. Setelah Kapolri Jenderal Idham Aziz, Kepala BNPT Suhardi Alius pun diundang. Tujuannya jelas. KPK ingin bersih-bersih. Cari aman.


Pimpinan KPK yang baru, pimpinan Firli Bahuri jelas akan merangsek dan mengobrak-abrik ketidakberesan yang disebabkan oleh Novel Baswedan. Juga radikalisasi Taliban yang dibangun di KPK. Langkah cuci-cuci KPK yang patut dihargai. Bagus. Sadar. Semoga insyaf.
Novel dan Tengku Zul Berjaya
Selama 17 tahun yang mem-brain-washed KPK adalah trondolo seperti Tengku Zulkarnain, dia berhasil membangun bangunan radikalisme di KPK. Buktinya ya Novel. Cingkrang. Taliban. Yudi jidat gosong. Mau apa lagi?
Kunjungan Jenderal Aziz jelas memberi makna gamblang. Lugas. Pimpinan KPK ingin memberi kesan ada sinergitas antara KPK dan Polri. Yang selama ini Pimpinan KPK abai. Terbuai. Karena Novel berhasil membangun Negara dalam Negara di dalam KPK.
Pimpinan KPK selama ini hanya ibarat kaki tangan kepentingan Novel. Hasil proxy dengan Bambang Widjojanto dan Abraham Samad, dan untuk kepentingan menjaga Anies Baswedan, dan kelompok kecil yang dia bangun.
Narasi kekuatan Novel Baswedan sungguh menggetarkan. Bahkan Jokowi pun terkecoh membela dia. Itu terjadi beberapa tahun lalu. Menang membangun narasi, Novel pun makin pede. Dia keluar dari Polri.
Dia membangun jaringan yang sebelumnya tabu di KPK. Aturan ditabrak. Dia bisa menguasai tiga kedeputian Pangaduan, Data dan Informasi, dan Penyidikan. Dia menempatkan orang-orangnya di situ.
Kasus-kasus pesanan pun digarap dengan sempurna. Kasus Sofyan Basir. Salah satu kasus yang paling spektakuler dibangun narasinya. Narasi hukum. Titik-titik rangkaian rapat dan pertemuan biasa, dijadikan alasan membangun opini hukum oleh KPK, untuk menjerat Sofyan Basir. Ini kegilaan ala Novel. Kasus RJ Lino pun bisa seperti itu. Maka menjadi wajar jika Sofyan dibebaskan. (Yang mencak-mencak nanti paling ICW dan Tempo – buzzer KPK seperti PartaiSocMed.
Nah akar masalahnya? Pertama bangunan radikalisme disemaikan oleh Tengku Zulkarnain. Mengakar. Dalam. Terutama sekali di posisi kunci. Kelompok kecil ini dikomandoi 100% oleh Novel. Bukan oleh Pimpinan KPK. Pimpinan KPK terjepit. Karena mereka mengandalkan kerja di tiga kedeputian di bawahnya. Lagi-lagi boss besarnya: Novel.
Topeng Novel Segara Terbuka. Maka kini, ketika menjelang lengser, kesadaran muncul. Radikalisme yang mewujud seperti gaya pakaian Syariah ala Taliban di sebagian kecil pegawai KPK adalah kenyataan. Tak bisa dipungkiri. Untuk cuci-cuci tepat sekali mendatangkan Kepala BNPT Suhardi Alius. Pas.
Bisa jadi kedatangan Kapolri dan Kepala BNPT adalah langkah tepat tobat KPK. Arah politik dan penguatan perlawanan terhadap radikalisme yang anti Pancasila, anti NKRI, pengikut Khilafah dan ISIS tengah gencar dilakukan. Dan, itu akan melibas orang, institusi, dan lembaga mana pun. Termasuk KPK.
Pimpinan KPK sadar tidak ada lagi jalan berbalik. Point of no return yang tengah berlaku. Harus mendukung gelombang pembersihan. Membela Novel kontra produktif tak bermanfaat sama sekali. Seperti Najwa Shihab yang terkait Cendana, ICW, Tempo dan buzzer @PartaiSocmed, kontra produktif di tengah gerakan waras masyarakat.
(Novel cerdas mengidentifikasi diri dengan kelompok Cingkrang. Tujuannya? Untuk mendapat dukungan mereka. Dia membaca arah politik identitas sebagai kekuatan. Dia campakkan keanggotaan Polri-nya. Dia berguru pada saudaranya, dan berkolaborasi dengan Anies. Dia pikir akan menjadi Presiden RI. Bahkan ikut melindungi kasus Pameran Buku Jerman, dan menggalang dana.)
Sekitar sebulan lagi, gelombang pembersihan di KPK tidak terelakkan. Firli Bahuri menjadi tumpuan Presiden Jokowi untuk membenahi KPK. Untuk meluruskan marwah KPK yang selama beberapa tahun ini menjadi ajang pemer kekuatan ugal-ugalan Novel. Bahkan kasus besar Anies Baswedan pun lenyap karena disimpan oleh Novel. Firli akan membuka lagi kasus ini.
Dan, sekali lagi, makna kedatangan petinggi Polri dan Kepala BNPT adalah kesadaran atas realita perubahan. Segera topeng Novel pun terbuka. Pun para Taliban di KPK pun akan disingkirkan oleh Firli Bahuri dan didukung oleh Kapolri dan BNPT.
(Penulis: Ninoy Karundeng).
Ini Langkah Meruntuhkan Bangunan Rad1kal1sme di KPK Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ngaji Online