Resolusi Jihad NU: Merdeka atau Syahid

Baca Juga


Dalam rangka meneladani sosok ulama yang ikut andil dalam perjuangan NKRI, Mahasiswa STAISPA mengadakan bedah film yang menghadirkan seorang penulis dan sastrawan Aguk Irawan sebagai pembicara. Acara ini dimoderatori oleh Nadia Aini seorang Mahasiswa STAISPA. Dengan penuh antusias, Mahasiswa STAISPA mengikuti acara tersebut di ruang Multipurpose STAISPA, pada Selasa (22/10/19).

Pada kesempatan tersebut, Aguk menjelaskan sosok KH. Hasyim Asy’ari yang sangat berperan besar terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia.

“Menurut pengamat penulis, salah satu peran kemerdekaan Indonesia adalah Mbah Hasyim Asy’ari. Dalam film, tidak terdapat adegan Mbah Hasyim dicabuti seluruh kukunya dan hanya dikasih makanan sisa anjing. Di dalam film Beliau hanya dipukuli saja dan dipenjara. Film ini hanya siasat produsen, karena banyak pihak yang tidak menyetujui untuk dijadikan film. Tetapi film ini penting untuk mengetahui sosok KH. Hasyim sebagai pendiri NU,” ujar Aguk.

Aguk kemudian menjelaskan alasan Mbah Hasyin bersedia menjadi mufti Jepang.

“Mbah Hasyim adalah orang yang pertama kali mendukung kehadiran Jepang pada tahun 1942 Maret. Mbah hasyim adalah sosok Kiai yang sangat husnudzon. Jepang datang ke Indonesia dengan tujuan menjadikan Indonesia sebagai kekuatan baru di Asia. Awalnya Mbah Hasyim bersedia ditunjuk sebagai mufti pihak Jepang,” jelasnya.

Pada saat itu, lanjut Aguk, banyak pihak nasionalisme yang menyayangkan dan menjustifikasi kalau Mbah Hasyim bersedia menjadi pengikut jepang. Padahal, banyak mereka yang tidak diketahui, alasan mengapa Mbah Hasyim menerima ketika ditunjuk sebagai mufti.

“Beberapa syarat Mbah Hasyim bersedia ditunjuk sebagai mufti, diantaranya, pertama Jepang harus mau melatih perang warga Indonesia, kedua Jepang harus mau mengajarkan ilmu administrasi dan geografi, ketiga Jepang harus mau mengajarkan bahasa jepang,” tutur alumni Al Azhar Mesir tersebut panjang lebar.

Kemudian, Aguk menerangkan alasan Mbah Hasyim berontak terhadap pemerintahan Jepang.

“Sebelum NICA datang, Mbah Hasyim sebenarnya memberontak pemerintahan Jepang. Ketika pihak Indonesia disuruh menyembah matahari, Mbah Hasyim memberontak. Pihak Jepang menganggap Mbah Hasyim sebagai penghianat,” jelasnya

Pada saat itulah, kata Aguk, Mbah Hasyim disandra Jepang dan dipenjara selama tiga hari. Seluruh rakyat Indonesia pun ikut perang melawan Jepang. Pada saat itu, NICA hendak datang dan Mbah Hasyim pun dilepaskan lagi, karena jepang ketakutan terhadap pihak NICA dan kaum pesantren.

Selain itu, Aguk juga menerangkan peran terbesar dalam kemerdekaan Bangsa Indonesia adalah dari kaum Pesantren, melalui Resolusi Jihad.

“NICA datang pada tanggal 19 September tahun 1945 dengan 200 ribu tentara menggunakan persenjataan lengkap, dari Belanda. Kemudian, pada tanggal 20 Oktober, NICA datang lagi ke Indonesia menggunakan persenjataan yang lebih lengkap dengan jumlah 800 ribu tentara. Pada saat pemerintah gamang bersikap, disitulah Resolusi Jihad keluar,” ungkapnya.

Aguk menuturkan bahwa Resolusi Jihad adalah aksi kyai dan kaum pesantren, ketika mulai negara atau pemerintah ini bingung dan tidak mempunyai mental untuk melawan.

“Pada saat itulah perang ada dimana mana, dan motonya kaum pesantren, pengikut Mbah Hasyim pilihannya adalah kalau nggak pulang dengan merdeka ya syahid. Pada saat 10 November itulah akhirnya menang yang kita rasakan hingga saat ini melalui peringatan Hari Santri Nasional,” tandas Pak Aguk. (Siti Kholisatul Wahidah/rn/bangkitmedia.com).

*Penulis adalah Mahasiswa KPI STAISPA yang sedang Magang Profesi di Majalah Bangkit dan Bangkitmedia.com

(sumber:bangkit.com)
Resolusi Jihad NU: Merdeka atau Syahid Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ngaji Online