Ini Penjelasan Kiai Hasyim Asy’ari tentang Gaya Nyentrik Gus Miek

Baca Juga

Dalam kitab المعاشرة karangan Imam Sayuthi disebutkan begini :
“من الاوقات المستجابات ساعة عند نزول المني في الفرج “
[Termasuk waktu di mana do’a pasti dikabul adalah saat masuknya sperma dalam vagina perempuan].
Jadi, kalo Anda ingin memiliki anak salih yang luar biasa maka, saat mani masuk dan bernyanyi crot… crot… crot… nah, saat ini Anda berdo’a. 🤣
Misal berdo’a : Ya Rabb.. jadikan mani ini seorang anak yang shalih.
Atau bayangkan siapa gurumu yang paling kamu cintai.
Gus Miek mulai dari bocah sampai belia sudah tampak tanda-tanda “nyelenih”nya. Tidak sedikit orang yang senang bahkan kesemsem pada beliau.
Saat beliau mondok jarang beliau pulang, meski di bulan Ramadan. Anihnya, di pondok-pondok mana pun yang beliau mondoki beliau tak pernah ngaji kitab yang serius dan antêng. Hanya tabarrukan atau berkhidmat malah, beliau lebih banyak sowan-sowan ke kyai-kyai besar dan ziarah ke makam-makam para waliyullah.
Metoda pencarian ilmu yang dilakukan oleh Gus Mik ini mustahal bisa di dapat dalam sistem ajar-mengajar atau didaktic metodic education. Tapi fakta kesaksesannya cukup jelas dan elegant.
SYSTEM ADALAH PENGANTAR BAGI KARSA UNTUK SAMPAI PADA DERMAGA. SAAT DERMAGA TELAH NYATA, SYSTEM JADI LENYAP, khan..?
Ketika Gus Miek masih mondok, tidak sedikit orang-orang yang sedekah beras, ayam-ayam, kambing-kambing bahkan ada sapi yang diberikan kepada Kiai Jazuli (Abah Gus Miek). Tapi mereka memberi untuk Gus Miek, bukan sedekah untuk Kiai Jazuli.
Mereka bilang sama Kiai Jazuli: “Ini Kyai, untuk Gus Miek. Jika Gus Miek pulang preinan (liburan-red) dari pondok, tolong ini sembelih”.
Saat Gus Miek pulang preinan dari pondok, di ndalem Kiai Jazuli seperti ada acara besar. Ayam-ayam, kambing-kambing disembelih dan diolah demi kerawuhan Gus Miek.
Dulur-dulur (saudara-saudara) Gus Mik sedikit merasa “anu” pada Kiai Jazuli. Tapi Kiai Jazuli paham dan nGerti pada anunya putra-putranya
Kira kira andaidibahasakan “anu”nya mereka bisa begini : “Abah, kalo kak Mik pulang dari pondok berpesta, nyembelih ini itu. Saat aku pulang dari pondok, sebutir telor pun tak disembelih”. Toh padahal ayam-ayam, kambing-kambing dan sapi yang dibuat penyambutan itu justeru milik Gus Mik, dan Kiai Jazuli hanya melaksanakan pinta dari orang-orang yang bersedekah.
Kiai Jazuli khawatir jangan-jangan nantinya Gus Miek dan dulur-dulurnya ada anu yang tak anu, seperti cerita Nabi Yusuf dan dulur-dulurnya.
Akhirnya, Kiai Jazuli membawa Gus Mik sowan ke Gurunya, KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang.
“Ono opo Li, kon gowo Miek?,” tanya KH Hasyim.
“Ini Kyai, keberadaan Miek. Aku khawatir jangan-jangan setelah aku mati anak-anakku tak akur seduluran,” dawuh Kiai Jazuli.
“Lo, mosok kamu lupa. Dulu saat kamu “kumpul” dengan istrimu kan kamu berdo’a dan membayangkan gurumu yang di Mekkah? Nah, Miek ini fotocopy gurumu itu,” kata KH Hasyim Asy’ari.
Kiai Jazuli hanya mampu merunduk dan menangis, karena sumringah.
Cerita tentang Gus Miek lebih banyak aku dapat dari KH Zainuddin, lalu dari Kiai Huda, lalu dari Gus Puk, dan orang-orang dekat atau teman-teman dekat Gus Miek saat beliau belia.
Sejarah waliyullah, walau setepas, adalah magic power rabbani bagi seorang khayyam yang sedang kembali-pulang.
Tulisan ini semoga menorehkan ilmu dan hikmah yang ruwah.
Saat kita tak kuasa jadi waliyullah, kita harus dekat pada waliyullah, agar selalu dan selalu bersama waliyullah.
SEBUAH NAMA YANG TERTOREH JELAS DI DINDING SARIRA SEORANG WALIYULLAH, PASTI DIPANDANG KHUSUS 0LEH ALLAH.~
Penulis: Qusyai OI, santri Gus Miek.
Ini Penjelasan Kiai Hasyim Asy’ari tentang Gaya Nyentrik Gus Miek Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ngaji Online