Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Tercetusnya Hari Santri Nasional dan Resolusi Jihad NU 22 Oktober

 Ngajionline.net - Presiden Jokowi pada 15 Oktober 2015 mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 untuk menetapkan Hari Santri yang merupakan supresi perjuangan santri dan ulama kalangan Pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Hari Santri nasional

Waktu itu NICA (Netherlands Indies Civil Administration) mengajak tentara sekutu yaitu Inggris saat hendak kembali menjajah Indonesia dalam agresi Militer pasca kekalahan Jepang di Bumi Nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa kemerdekaan yang telah diproklamasikan oleh Ir. Soekarno bukanlah sebuah akhir dari perjuangnan panjang rakyat Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdaulat. untungnya ulama-ulama pesantren sudah membaca situasi hingga bisa menyiapkan seandainya Jepang menyerah pada sekutu.

Saat Jepang menyerah dan Belanda mulai agresi kembali di tanah Nusantara, para pemuda Indonesia melalui Laskar Hisbullah dan yang lain mulai siap menghadapi perang dengan Belanda dengan bekal pelatihan militer 'gratis' dari Jepang. atas dasar kesepakatan diplomatik Jepang dan KH Hasyim Asyari akhirnya sepakat dengan berbagai pertimbangan yang dilakukan oleh KH Hasyim Asyari, akhirnya beliau sepakat dengan syarat para laskar hisbullah yang dilatih Jepang harus mandiri, tidak masuk ke jajaran tentara Jepang. saat itu pula menjadi awal terbentuknya laskar hizbullah.

laskar hizbullah dibentuk beberapa minggu setelah terbentuknya PETA (Pembela Tanah Air) tepatnya pada Bulan November tahun 1993 M. meski kedua laskar ini berdiri sendiri, namun secara militer keduanya tetap berada dinaungan seorang perwira Intelejen Jepang, Kapten Yanagawa.

walau hanya dikenal sebagai seorang kiai, KH Hasyim Asyari sangat mumpuni dan cukup paham strategi perang. pada waktu pemutusan kerja sama dengan Jepang, banyak orang-orang yang mempertanyakan dan memandang bahwa keputusan beliau dianggap sebagai ketudukan kepada pihak jepang, tanpa ingin tau dan memahami keinginan kiai Hasyim yaitu, ingin agar pemuda Indonesia paham ilmu militer dan bisa melawan agresi penjajah kedepannya.

kiai Saifuddin Zuhri dalam buku beliau (Berangkat dari Pesantren, 2013) mengatakan, waktu itu angkatan perdana pelatihan Hizbullah diadakan di Cibarusa, Bogor awal tahun 1994 yang diikutu oleh 150 anak muda yang sebagian besar datang dari daerah Jawa dan Madura yang setiap daerah mengirim 5 perwakilan anak muda.

Martin van Bruinessen dalam bukunya (NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, 1994) menjelaskan, tanggal 21 dab 22 Oktober 1945, bahwa wakil dari seluruh cabang NU di Jawa dan Madura mengadakan pertemuan di Surabaya dan sepakat bahwa perjuangan kemerdekaan sebagai 'jihad'. Dalam pertempuran itulah kemudian lahirlah 'Resolusi Jihad' 22 Oktober yang menjadi dasar Jokowi yang disepakati beberapa kiai khos untuk menetapkan tanggal dan bulan dirayakannya Hari Santri.

Dikutip dari NU Online

Post a comment for "Sejarah Tercetusnya Hari Santri Nasional dan Resolusi Jihad NU 22 Oktober "