Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hukum Wanita Haidl Mengikuti Kegiatan Keagamaan di Masjid

Hukum Wanita Haidl Mengikuti Kegiatan Keagamaan di Masjid

Gambaran Masalah

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah umat islam yang sangat besar dan kuat. Setidaknya hal tersebut dibuktikan dengan maraknya beragam kegiatan religi seperti tahlilan, pengajian, dziba'an maulidan, dan Iain sebagainya. Sebagai pusat kegiatan agama, masjid berikut serambinya seringkali dipilih sebagai tempat pelaksanaan acara-acara tersebut, karena masjid dinilai sebagai tempat paling sakral dan sarat dengan berkah. Tidak hanya kaum pria, banyak juga kaum hawa yang turut hadir di serambi masjid demi mendapatkan siraman rohani, meski terkadang mereka sedang dalam keadaan haidl.

Pertanyaan

a. Bagaimana hukum wanita mengikuti kegiatan keagamaan seperti pengajian atau majelis ta'lim?

Pendahuluan

Wanita adalah makhluk Tuhan yang istimewa. la adalah penentu nasib bangsa. Jika wanita baik, maka nasib bangsa juga akan baik; begitupun sebaliknya. Karena itulah ia mendapat perlakuan hukum yang berbeda dengan kaum lelaki, misalnya dalam masalah luijåb (penutup) dan pergaulan dalam berbagai aspek kehidupan.

Perlakuan yang berbeda dalam Islam antara kaum Adam dan kaum Hawa tentunya merupakan hukum yang paling bijak, mengingat kodrat mereka memang berbeda. Sayangnya, oleh sebagian kelompok Yang menamakan dirinya sebagai pejuang feminisme- hukum Islam seringkali dipahami sebagai tindak diskriminatif yang harus diamandemen. Padahal, keadilan lebih tepat diartikan sebagai tindakan mendudukkan segala sesuatu pada tempat masing-masing; bukan menyamaratakan derajat agar selalu setara.

Disadari atau tidak, pergaulan wanita yang tidak dibatasi dengan norma agama dan sosial tentu akan menimbulkan berbagai dampak negatif lagi berbahaya. Apalagi sekarang ini tindak eksploitasi wanita kian hari kian subur, bagai rumput liar yang lahir di musirn hujan. Jauh-jauh hari Rasulullah saw telah memperingatkan umatnya dalam sabda beliau:

والنساءحبائل الشيطان

"Wanita adalah jaring-jaring syaitan. " (HR. Hudzifah Ibn al-Yaman)

Tentunya, islam sama sekali tak bermaksud membatasi ruang gerak kaum hawa atau membunuh karakter mereka. Sebaliknya, syara' bermaksud menyingkirkan bahaya kerusakan moral yang mengancam keselamatan umat, di dunia dan akhirat kelak. Sesuai dengan kaidah fiqh bahwa setiap bahaya harus dihindari: "Bahaya itu dihilangkan. " Terkait dengan hal tersebut, islam mengajarkan bahwa dalam pelaksanaan shalat, wanita lebih baik melaksanakannya di rumah ketimbang mengikuti jamaah di masjid mengingat besarnya dampak negatif yang ditimbulkan jika ia keluar rumah. Kehadiran wanita di muka umum dapat menjadi pemicu meledaknya hasrat kaum Adarn dan merobohkan dinding pertahanan iman mereka. Rasulullah saw bersabda:

صلاتكن فى بيوتكنخير منصلاتكن فى دوركن، وصلاتكن فى دوركن أفضل منصلاتكن فى مسجد الجماعة

"Shalat kalian (para wanita) di kamar kalian lebih baik dari shalat kalian di perumahan kalian. Dan shalat kalian di perumahan kalian lebih utama dari pada shalat kalian di masjid jamaah (masjid jami '). " (HR. Baihaqi)

Hadits ini menjadi dasar sebagian ulama untuk mengharamkan wanita pergi ke masjid mengingat bahayanya sangat besar. Namun mayoritas ulama madzhab Syafi'i memilah persoalan ini dengan memberi hukum makruh bagi wanita muda atau yang memiliki daya pikat. Sedangkan bagi wanita lanjut usia, hukumnya adalah mubah. Formulasi hukum semacam ini dengan satu catatan tidak ada dugaan kuat akan timbulnya fitnahl . Sementara jika kuat dugaan bahwa fitnah akan muncul, maka akan berkonsekuensi hukum haram.

Khusus bagi wanita yang telah bersuami, ia boleh keluar rumah jika mendapat izin dari sang suami, karena hari-hari seorang isteri sepenuhnya menjadi hak sang suami. Jika ia keluar tanpa izin, akibatnya ia akan mendapat predikat nusyuz2 (purik; jawa), yang berkonskuensi hukum dosa dan tidak berhak mendapatkan nafkah.

Tujuan yang mulia —seperti keluar untuk mengikuti kegiatan keagamaan atau shalat berjamaah— tetap tidak bisa merubah hukum di atas. Hal ini disebabkan satu prinsip dasar bahwa: "Mencegah bahaya Sebaimana disebut dalam kaidah fiqh:

درءالمفاسد مقدم على جلب المصالح

“Mencegah kerusakan (lebih) didahulukan daripada menarik menfaat”

Jawaban

Hukum wanita mengikuti kegiatan keagamaan di tempat-tempat urnum adalah makruh bagi wanita muda atau yang memiliki potensi daya tarik. Sedangkan bagi wanita tua hukumnya mubah dengan mengenakan pakaian yang sederhana. Hal inijika tidak yakin atau ada dugaan kuat akan menimbulkanfitnah. Namun jika yakin atau ada dugaan kuat terjadinyafitnah maka hukumnya haram.

Rujukan

حاشية الجميل (ج۱، ص 503) الجامع الفقه

ويكره حضورهن المسجد في جماعة الرجال إن كن مشتهيات خوف االفتنة (قوله ويكره حضورهن ) أي كراهة تحريم حيث لم يأذن الخليل اه‍ ح ل وعبارة شرح م ر ويكره لها أي المرأةحضور جماعة المسجد إن كانت مشتهاة ولو في ثياب مهنة أو غير مشتهاة وبها شيء من الزينة أو الريح الطيب وللإمام أو نائبه منعهن حينئد كما له منع تناول ذا ريح كربه من دخول المسجد، ويحرم عليهن بغير  إذن ولي أو حليل أو سيد أو هما في أمة متزوجة ومع حشية فتنة منها أو عليها انتهت ( قوله أيضاويكره حضور من المسجد ) أي محل الجماعة ولو مع غير الرجال فذكر المساجد والرجال للغالب، ويحرم الحضور لذات الخليل بغير إذنه ويحرم عليه الإذن لها  مع خوف الفتنة بها أو لها ويسن الحضور للعجائز على المعتمد كالعيد وحينئذ تكون الجماعة في المسجد لهن أفضل من الانفراد في البيت ا ه‍ بر ماري

فيض القدير (جبار ص 228)

(صلاتكن) ، أيتها النسوة ( في بيوتكن أفضل من صلاتكن في حجركن ) جمع حجرة ( وصلاتكن في حجركن أفضل من صلاتكن في دوركن وصلاتكن في دوركن أفضل من صلاتكن في مسجد الجماعة ) لأن النساء أعظم حبائل الشيطان وأوثق مصائده فإذا خرجن نصبهن شبكة بصيد بها الرجال فيغريهم ليوقعهم في الزنا فأمرن بعدم الخروج حسما لمادة إغوائه وإفساده وفيه حجة لمن كره لهن شهود الجمعة والجماعة وهو مذهب أهل الكوفة وأبو حنيفة بل عم متأخر و أصحابه المنع للعجائز والشواب في الصلوات كلها لغلبة الفساد في سائر الأوقات كما في فتح القدير ومذهب الشافعي كراهته لشابة أو ذات هيئة لا عجوز في بذلة ومع ذلك بينها خير ها

الزواجر عن اقتراف الكبائر (ج2, ص 71) الجامع

الكبيرة التاسعة والسبعون بعد المائتين خروج المرأة من بيتها متعطرة متزينة ولو بإذن الزور أخرج أبو داود والترمذي وقال حسن صحيح أنه صلى الله عليه وسلم قال {كل عين زائية والمرأة إذا استعطرت فمرت بالمجلس فهي كذا وكذا} يعني زائية النسائي وابن خزيمة وابن حبان في صحيحيهما {أيما امرأة استعطرت فمرت على قوم ليجدوا ريحها في زانية وكل عين زانية} ورواه الحاكم وصححه وصح كلام فيه لا يضر {أن امرأة مرت بأبي هريرة رضي الله عنه وريحها يعصف فقال لها أين تريدين يا أمة الجبار؟ قالت إلى المسجد قال وتطيبت له ؟ قالت نعم قال فارجعي فاغتسلي فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لا يقبل الله من امرأة خرجت إلى المسجد لصلاة وريحها يعصف حتى ترجع فتغتسل} واحتج به ابن خزيمة إن صح قد علمت أنه صح على إيجاب الغسل عليها ونقي قبول صلاتها إن صلت قبل أن تغتسل وليس المراد خصوص الغسل بل إذهاب رائحتها وابن ماجه { بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم جالس في المسجد دخلت امرأة من مزينة ترفل في زينة لها في المسجد فقال النبي صلى الله عليه وسلم يا أيها الناس انهوا نساءكم عن لبس الزينة والتبختر في المسجد فإن بني إسرائيل لم يلعنوا حتى لبس نساؤهم الزينة وتبخترن في المسجد} تنبیه عد هذا هو صريح هذه الأحاديث وينبغي حمله ليوافق قواعدنا على ما إذا تحققت الفتنة أما مع مجرد خشيتها

Pertanyaan

b. Bagaimana hukum wanita yang sedang haidl atau nifas berdiam diri di serambi masjid?

Pendahuluan

Serambi masjid dalam bahasa arab dikenal dengan istilah rahabah Al Masjid Dalam istilah fiqh, rahabah didefinisikan sebagai sebuah tempat yang berada di sekeliling masjid dan dibangun untuk kepentingan masjid, bukan untuk sekedar meletakkan sandal atau meletakkan bahan-bahan bangunan, Dalam semua hukumnya, serambi dianggap sama dengan masjid, sehingga sah hukumnya beri'tikaf di serambi dan haram bagi orang yang berhadats besar atau wanita haid berdiam diri di serambi. Hukum demikian disimpulkan oleh para ulama dengan memandang pada nash Imam Syafi'i mengenai masalah shalat jamaah.

Beliau mengatakan bahwa, jika imam berada di dalam masjid, sementara makmum berada di serambi, maka sah jamaah shalat mereka meskipun tidak ada jalan  (pintu) yang menghubungkan mereka, sebuah hükum yang pada mulanya diberikan kepada masjid. Konsekuensi semacam ini diberlakukan jika tidak diyakini bahwa serambi itü baru dibangun setelah masjid, serta tidak ada keyakinan bahwa lokasi serambi tersebut bukan termasuk bagian tanah yang diwakafkan menjadi masjid.

Mengenai tidak diperkenankannya seseorang yang sedang berhadast beşar atau wanita haidl berdiam diri di masjid, hal ini dikarenakan masjid adalah tempat suci, sementara haidl adalah kotor, sehingga dianggap tidak pantas ia berada di rumah Allah. Karena pertimbangan ini, maka wanita yang sedang haidl -meşki darah sudah berhenti keluar namun ia belum bersuci (mandi atau tayammum)- haram hukumnya berdiam di dalam masjid atau di serambi masjid yang dibangun bersamaan dengan masjid, atau diyakini bahvva area serambi adalah tanah yang diwakafkan menjadi masjid.

Demikian ini jika wanita berdiam atau mondar-mandir di dalam masjid selama kadar minimal thumîninahl . Beda halnya jika ia hanya sekedar melintas di dalam masjid, maka diperbolehkan jika tidak dikhawatirkan darah haidlnya akan mengotori masjid, selaras dengan ayat:

والاجنباإلاعابري سبيل حتى تغتسلوا

"(jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam Keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu sajaı hingga kamu mandi. (QS AI-Nisâ: 43)

Sedangkan menurut madzhab Hanbali, orang yang haidl dan telah berhenti darahnya boleh diam di masjid meşki ia belum bersuci (mandi atau tayammum), dengan catatan ia telah berwudlu.

Jawaban

Hukum wanita haidl berdiam diri di serambi masjid adalah haram bila serambi tersebut dibangun bersamaan dengan masjid atau diyakini area tanah serambi adalah tanah yang diwakafkan menjadi masjid. Sebab, hükum serambi sama dengan masjid/ baik dalam hal keabsahaan i'tikaf, ataupun haramnya berdiam diri di dalamnya bagi orang yang berhadats besar.  Namun, menurut ulama' madzhab Hanbali wanita haidl Yang darahnya sudah berhenti boleh berdiam di masjid dan serambi dengan berwudlu terlebih dahulu.

Rujukan

الفقه الإسلامي وأدلته (ج1 ص 627)

دخول المسجد واللبث والاعتكاف فيه ولر بوضوء لقوله صلى الله عليه وسلم لا أحل المسجد لحائض  ولاجنب وأجاز الشافعية والحنابلة للحائض والنفساء العبور في المسجد إن أمنت تلويثه لأنه يحرم تلويث المسجد بالنجاسة وغيرها من الأقذار ولما روت عائشة رضي الله عنها قالت قال لي صلى الله عليه وسلم ناوليني الخرة من المسجد فقلت إني حائض فقال إن حيضتك ليست في يدك وعن ميمونة رضي الله عنهاقالت تقوم إحدانا بالمرة إلى المسجد فتبسطها وهي حائض هذا الحنابلة أيضا للحائض المكث في المسجدبوضوء بعد انقطاع الدم

الشرح الكبير لابن قدامة (ج 1 ص 209)

فإن توضأ الجنب فله اللبث في المسجد عند أصحابنا وهو قول اسحاق وقال الأكثرون لا يجوز للآية والخبرووجه الأول ما روی زيد بن أسلم قال كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يتحدثون في المسجد على غير وضوء وكان الرجل يكون جنبا فيتوضأ ثم يدخل فيتحدث وهذا إشارة إلى جميعهم فنخص عموم الحديث وعن عطاء بن يسار قال رأيت رجالا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يجلسون في المسجد وهم مجنون إذا توضوء وضوء الصلاة رواه سعید بن منصور والأثرم وحكم الحائض إذا انقطع حيضها حكم الجنب فأما في حال عيضها فلا يباح لها اللبث لان وضوءها لا يصح

إعانة الطالبين (ج 1 ص 69)

(قوله ويحرم با لجنابة إلخ) أي زيادة على ما حرم بالحدث وقوله المكث خرج به مجرد المرور فلا يحرم كأن يدخل من باب ويخرج من أخرقال تعاي ولا جنبا إلا عابري سبيل

إعانة الطالبين (ج 2, ص 68)

(فإن كانا يمسجد) ومنه جداره ورحبته وهي ما خرج عنه لكن حجر لاجله سواء أعلم وقفيتها مسجد أو جهل أمرها عملا بالظاهر ومر التحويط لكن ما لم يتيقن حدوثها بعده وأنها غير مسجد لا حريمه وهو موضع اتصل به وهيئ لمصلحته كانصبابه ماء ووضع نعال (وقوله ما خرج عنه ) أي المسجد قال العلامة الكردي اختلف فيها ابن عبد السلام وابن الصلاح فقال الأول هي ما كان خارجه محجرا عليه لأجله وقال ابن الصلاح هي صحن المسجد وطال النزاع بينهما وصنف كل منهما تصنيفا والصواب ما قاله ابن عبد السلام اه‍ وفي فتاوي ابن حجر ما نصه ( سئل ) رضي الله عنه ما حقيقة رحبة المسجد وما الفرق بينها وبين حريمه وهل لكل حكم المسجد ( فأجاب بقوله قال في المجموع ومن المهم بيان حقيقة هذه الرحية ثم نقل عن صاحب الشامل والبيان أنها ما كان مضافا إلى المسجد محجرا عليه لأجله وأنها منه وأن صاحب البيان وغيره نقلوا عن نص الشافعي رضي الله عنه وغيره صحة الاعتكاف فيها قال النوري واتفق الأصحاب على أن المأموم لوصلي فيها مقتديا بإمام المسجد صح وإن حال بينهما حائل يمنع الاستطراق لانها منه وليست توجد لكل مسجد وصورتها أن يقف الانسان بقعة محدودة مسجداثم يترك منها قطعة أمام الباب فإن لم يترك شيئا لم يكن له رحبة وكان له حريم أما لو وقف دارا محفوفة بالدور مسجدا فهذا لا رحبة له ولا حریم بخلاف ما إذا كان بجانبها موات فإنه يتصور أن يكون له رحبة وحريم ويجب على الناظر تمپيزها منه فان لها حكم المسجد دونه وهو ما يحتاج إليه لطرح القمامات والزبل اه‍ بحذف - إلى أن قال - (قوله وأنها غير مسجد) قال السيد عمر البصري في حاشية التحفة التعبير باو أول فتأمل اه‍ ولعل وجهه أن الواو لكونها موضوعة للجمع تقتضي أنه لا بد في عد الرحبة من المسجد من عدم مجموع شيئين وهما تيقن الحدوث بعده وتيقن أنها غير مسجد مع أنه يه سكافي في ذلك عدم أحدهما فمن لم يتيقن الحدوث بعده أو لم يتيقن أنها غير مسجد فهي من المسجد ومتي ما تيقن أحدهما فهي ليست منه وعدم تیقن غير المسجدية صادق بما إذا تيقنت المسجدية وبما إذا جهل الحال وكذلك عدم تیقن الحدوث صادق بما إذا تيقن غيره وبما إذا جهل الحال تأمل

المجموع (ج 6 ص 507) الشاملة

ومن المهم بیان حقيقة هذه الرحبة قال صاحب الشامل والبيان المراد بالرحبة ما كان مضافا إلى المسجد محجرا عليه قالا والرحية من المسجد قال صاحب البيان وغيره وقد نص الشافعي علي صحه الاعتكاف في الرحبة قال القاضي أبو الطيب في المجرد قال الشافعي يصح الاعتكاف في رحاب المسجد لأنها من المسجد

المجموع (ج۳، ص ۱۰۵) الشاملة

وقال صاحب البيان وغيره وكذا لو أذن الجنب في رحبة المسجد يأثم ويصح اذانه قال والرحبة كالمسجد في التحريم على الجنب

Catatan

  1. Istilah fitnah dalam bab ini didefinisikan sebagai sesuatu yang merangsang getaran seks yang mengarah pada hubungan intim atau fantasi-fantasi seksual lainnya (ladzdzah). Manhaj Solusi Umat, jawaban problematika kekinian, hal.359
  2. Nusyuz: tindakan kedurhakaan seorang isteri kepada suaminya yang menyebabkan ia tidak berhak mendapat nafkah dan giliran (al-qasm). Misalnya, menolak ajakan hubungan intim suami, keluar rumah tanpa izin suami, dll.

Post a comment for "Hukum Wanita Haidl Mengikuti Kegiatan Keagamaan di Masjid"