Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kitab Imriti Nadhom dan Artinya. Bab I'rab

باب الإعراب

BAB I'ROB

إعربهم تغيراخرالكلم # تقديرا أولفظالعامل علم

1'rob menurut ahli nahwu adalah perubahan akhir kalimat dengan perubahan yang samar atau yang tampak yang disebabkan oleh arnil.

أقسامه أربعة فلتعتبر # رفع ونصب وكذاجزموجر

Macam-macamnya i'rob yang telah disepakati ada empat, yakni rofa', nashob, jazem dan jer.

والكل غيرالجزم في الأسما يقع # وكلهافي الفعل والخفض امتنع

Kesemua macam i'rob itu dapat masuk pada kalimat isim kecuali i'rob jazem, begitu juga kesemuanya dapat masuk pada kalimat fi'il kecuali i'rob jer.

وسائرالأسماءحيث لاشبه # قربهامن الحروف معربه

Dari sekian banyaknya kalimat isim, sekiranya tidak memiliki keserupaan, yang akan menjadikan isim mendekati kalimah huruf maka isim itu hukumnya mu'rob.

وغير ذى الأسماءمبني خلا # مضارع من كل نون قدخلا

Dan semua kalimat, termasuk isim yang tidak memiliki kriteria di atas maka hukumnya mabni. Kecuali, fi'il mudlori' yang akhirnya tidak bertemu dengan Nun. 

Keterangan Nadhom:

  • إعرابهم; I'rab dari Sisi bahasa memiliki banyak arti diantaranya adalah memperjelas, menggiring, memperindah, merubah, menghilangkan kejelekan. Sedangkan menurut istilah i'rob dapat diartikan dengan dua arti: Pertama, i'rob adalah suatu bekas atau dampak yang berada di akhir kalimat baik bekas tersebut terlihat jelas atau pun tidak. Dan wujudnya bekas ini dikarenakan adanya perintah dari sebuah 'amil. Maksudnya, menurut arti pertama ini, yang dikatakan i'rob yakni perpindahan baik dari rofa' ke nashob atau yang Iainnya. Kedua, i'rob adalah sesuatu yang didatangkan agar menjadi tanda atau penjelas dari apa yang dikehendaki Oleh amil. Bisa saja sesuatu yang didatangkan dan dikendaki Oleh 'amil itu berupa harokat, huruf, sukun atau bahkan berupa pembuangan.
  • لعامل; Menurut hukum asal, 'amil adalah kalimat fi'il. Sebab suatu 'amil dapat beramal karena 'amil tersebut butuh pada kalimat Iain yang ia perintah. Sementara, kalimat yang sangat butuh pada kalimat Iain adalah fi'il. Dan mengapa fi'il sangat butuh pada kalimat Iain, karena fi'il adalah kalimat yang menunjukkan pada suatu makna yang baru datang (Hadats) yang menuntut adanya pelaku, tempat, waktu kemudian alasan.
  • أقسامه (Pembagian i'rob); Pembagian i'rob ketika ikut pada kitab aslinya (Jurumiyah) maka urutannya adalah رفع، نصب، جر، جزم.

  1. Rofa' (رفع) disebutkan pertama kali dikarenakan rofa' adalah i'rob yang khusus untuk 'umdah (kalimat pokok yang dapat memberikan faidah). Dinamai rofa' (luhur) karena dałam mengucapkan tanda aslinya yakni dommah kedua bibir harus dałam bentuk meninggi atau memanjang ke depan (monyong).
  2. Nashob (Iنصب) disebutkan dałam urutan kedua sebab pada asalnya amil nashob adalah kalimat fi'il dan hukum asal kalimat yang dapat beramal adalah kalimat fi'il. Disebut nashob (rata) karena dałam mengucapkan tanda aslinya yakni fathah bentuk bibir dałam keadaan merata.
  3. Jer disebutkan dałam urutan ketiga karena jer adalah i'rob yang khusus untuk isim dan isim lebih mulia dari pada fi'il. Disebut jer atau khofad (rendah) karena ketika mengucapkan tanda aslinya ya'ni kasroh, bibir bawah akan lebih rendah atau lebih mundur dibandingkan bibir atas.
  4. Jazem (جزم) disebutkan dałam urutan yang terakhir karena memang jazem adalah i'rob yang derajatnya berada di akhir. Disebut jazem (terputus) karena ketika mengucapkan tanda i'robnya yang asli yakni sukun, maka kedua bibir akan terputus dari adanya harokat.

  • مبنى; Kalimat mabni sebenarnya berasal dari kalimat bina' yang menurut bahasa artinya adalah meletakkan sesuatu pada sesuatu yang lain dengan sebuah model tertentu yang bertujuan agar tercipta kekokohan. Dan secara istilah, Bina' berarti menetapnya akhir kalimat pada satu kondisi saja baik kondisi menyandang harokat atau pun sukun. Hukum asal dari kalimat isim adalah mu'rob dan ia akan menjadi mabni apabila ada keserupaan dengan kalimat huruf. Secara ringkas hal iłu ada enam penyebab, yaitu:

  1. Isim akan menjadi mabni apabila serupa dengan huruf dari Sisi wadľi atau bentuk awal tercetaknya. Artinya, kalimat isim bentuk awal tercetaknya sama dengan bentuk awal tercetaknya kalimat huruf. Misal, isim yang dimabnikan sebab ada keserupaan wadl'i dengan kalimat huruf adalahi isimDhomir yang bentuknya menyerupai pada huruf jerb ba' yakni bentuknya sama-sama satu huruf. serupa wadl'ik kebanyakanhanya terjadi dalam kalimat Dhomir sajas sepertita ’, dan na dari contoh ji'tana (جئتنا).
  2. Serupa dari sisi iftiqori atau sama-sama butuh pada kalimat yang lain. Artinya, ketika kalimat isim menyerupai pada kalimat huruf dari sisi sama-sama butuh pada kalimat lain untuk dijadikan shilah atau penyambung maka isim tersebut akan menjadi mabni. Seperti isim maushul yang dimabnikan sebab serupa dengan kalimat huruf yakni sama-sama butuh pada penyambung atau shilah. Seperti yang kita ketahui bahwa huruf pasti butuh pada kalimat lain sebab kalimat tidak bisa memunculkan makna tanpa adanya kalimat lain. Serupa iftiqori pada asalnya hanya terjadi pada isim maushul, haitsu, idz, idza yang harus diidhofahkan pada jumlah.
  3. Serupa dari sisi maknawi yakni di dalam kalimat isim terkandung suatu makna relatif (Nisbi) yang semestinya makna tersebut diungkapkan dalam bentuk kalimat huruf, bukan dengan kalimat isim sehingga apabila makna itu tetap diungkapkan dalam bentuk kalimat isim maka akan menybabkan isim tersebut mabni. Isim-isim yang dimabnikan dengan alasan ini jumlahnya ada tiga yaitu isim syarat, isim istifham, isim isyaroh. Serupa maknawi asalnya terjadi pada dua macam kalimat saja. Pertama, isim yang menyimpan makna huruf yang wujud seperti isim syarat dan istifham, misal Man dan Ma. Isim Syarat menyimpan makna huruf In dan Isim Istifham menyimpan makna huruf hamzah istifham. Kedua, yakni isim yang menyimpan makna huruf yang tidak wujud seperti isim isyaroh. Seperti dza sebagai penunjuk makna laki-laki pada suatubenda, dzi sebagai penunjuk makna parempuan pada suatu benda
  4. Serupa dari isti'mali yakni kalimat isim dapat beramal (memerintah) namun tidak dapat menjadi ma'mul (yang diperintah) mirip dengan kalimat huruf. Contoh isim yang dimabnikan dengan alasan isti'mali adalah isim fi'il yang serupa dengan huruf, misal huruf laita dan la'alla. Serupa isti ' mali pada asalnya hanya terjadi pada isim fi'il seperti shoh dan haihata.
  5. Kelima, serupa dari sisi ihmali yakni kalimat isim tidak dapat beramal juga tidak dapat menjadi Ma'mul seperti kalimat Hala. Selanjutnya Serupa ihmali hanya terjadi pada isim shout (صوت) seperti ghaq (غاق), ungkapan yang mewakili suara burung gagak. Demikian juga isim' alam yang diakhiri dengan kalimat Waih (ويه) seperti Sibawaih (سيبويه) dan Darastuwaih (درستويه).
  6. Keenam, serupa dari sisi jumudi yakni kalimat isim hanya berada atau menatapi satu keadaan saja mirip seperti kalimat huruf.

Post a comment for "Kitab Imriti Nadhom dan Artinya. Bab I'rab"