Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kitab Imriti Nadhom dan Artinya. Bab Tanda-tanda I'rab Bagian II

Imriti dan Terjemah Bab Alamat Irab

گماث في الخمسة الأسماء ( ۳۹ ) وهي التي تأتيى على الولاء

Demikian juga wawu menjadi tanda rofa'pada asmaul khomsah, isim khomsah adalah isim-isim yang akan disebutkan secara runtut.

 أب أځ خم وفوك وذو جری ( ۳۷ ) گل مضافا مفردا مكبرا

Yakni lafadz abun, akhun, hamun, fuka dan dzu, dengan catatan isim-isim tersebut harus mudlof, mufrod dan mukabbar

 وفي مثنی نحوزيدان الألف ( ۳۸ ) والنون في المضارع الذي عرق
Alif, menjadi tanda rofa ' pada ism tatsniyah seperti pada lafadz zaidani. nun, menjadi tanda rofa' fi'il mudlori ' yang telah diketahui
 بيفعلان تفعلآن أنتما ( ۳۹ ) ويفعلون تفعلون معهما
Yakni fi'il yang berwazan yaf'alani, taf'alani, yaf'aluna, taf'aluna.
 وتفعلين ترحمين حالي # واشتهرت بالخمسة الأفعال
Dan berwazan taf'alina. fi'il-fi'il ini masyhur disebut dengan Af'al Khomsah.

Keterangan Nadhom:

  • كماأتت; Asmaul khomsah adalah sebuah nama yang telah menjadi istilah sebagai wakil dari lima isim yang terkhususkan untuk lafadz أب، أخ، حم، فو، ذو. Kemudian isim yang lima ini ketika di i'rab rofa' maka rofa'nya ditandai dengan wawu dengan syarat seperti berikut:
  1. Pertama, harus dimudlofkan kalau saja tidak dimudlofkan maka irab rofa'nya akan ditandai dengan harakat layaknya isim mufrod.
  2. Kedua, tidak boleh dimudlofkan kalau tidak demikian maka irab rofa'nya ditandai dengan pengira-ngiraan harokat sebagaimana isim yang mudlofkan pada ya' mutakallim sesuai umumnya.
  3. Ketiga, harus dalam bentuk mufrod, maka kalau saja berbentuk tatsniyah atau jamak, irab rofa'nya akan ditandai dengan tanda isim tatsniyah dan jamak sehingga andai berbentuk jamak mudzakkar salim maka tanda i'robnya dengan huruf dan andai berbentuk jamak taksir maka i'robnya ditandai dengan harokat. Sebagai catatan bahwa dari lima isim di atas yang bisa diungkapkan dalam bentuk jamak mudzakkar salim hanyalah lafadz أب، أخ، حم.
  4. Keempat, tidak dalam bentuk tashghir sehingga apabila isim di atas dalam keadaan bentuk di tashghir maka i'robnya ditandai dengan harokat yang dhohir.
  5. Kelima, sebagai tambahan dari syarat di atas yakni lima isim tersebut tidak diakhiri dengan ya' nisbat dan apabila diakhiri dengan ya' nisbat maka i'robnya akan ditandai dengan harokat yang dhohir seperti lafadz أبوك. Dan khusus untuk lafadz فم agar dapat di'irob dengan tanda wawu ketika dalam tingkah rofa' maka huruf mimnya harus dibuang sehingga bentuknya akan menjadi seperti lafadz فو Kemudian syarat untuk lafadz ذو harus bermakna shohib (pemilik) bukan ذو yang berupa isim maushul sebab menurut qoul masyhur ذو yang berupa isim maushul adalah mabni dan juga harus dimudlofkan pada isim jenis.
  • وفي مثنى tatsniyah adalah isim yang menunjukkan makna dua, terdapat huruf tambahan di akhirnya yang mungkin untuk dibuang, bentuk mufrodnya dapat di'athofkan pada Iafadz yang menyamainya seperti lafadz زيدان Sebab sebenarnya lafadz زيدان asalnya adalah زيد وزيد yang kemudian disatukan menjadi زيدان. Dari definisi ini maka secara otomatis akan mengecualikan beberapa contoh:
  1. Pertama, adalah lafadz سكران dan رُمّانٌ kedua lafadz ini meskipun di akhiri dengan tambahan alif dan nun namun tidak menunjukkan pada arti dua begitu juga lafadz  صنوان dan غلمان yang memiliki arti lebih dari dua.
  2. Kedua, adalah lafadz إثنان meskipun memiliki arti dua tapi huruf tambahannya tidak bisa di buang (permanen).
  3. Ketiga adalah lafadz قمران yang memiliki arti matahari dan bulan karena lafadz ini bentuk mufrodnya tidak bisa diathofkan pada bentuk mufrod Iain yang statusnya adalah bagian dari lafadz قمران itu sendiri. Hal itu bisa diterima sebab قمران pada asalnya adalah قمر وشمس bukan قمر وقمر atau bukan juga شمس وشمس.
Terlepas dari definisi, ada beberapa syarat untuk membuat isim tatsniya;
  1. Pertama, mu'rob, maka lafadz-lafadz yang mabni menurut pendapat ashoh tidak dapat ditatsniyahkan.
  2. Kedua, mufrod sehingga lafadz selain mufrod seperti tatsniyah, jamak tashih, shighot muntahal jumu' tidak bisa ditatsniyahkan.
  3. Ketiga, bisa dinakirohkan, semisal isim alam, isim 'alam bisa dirubah menjadi isim tastniyah akan tetapi terlebih dahulu isim 'alam harus dinakirohkan dengan cara orang yang mengucapkannya menghendaki arti yang menyeluruh dari isim alam tersebut. Misal, ada seseorang yang hendak mentatsniyahkan lafadz زيد sebelum lafadz tersebut diungkapkan dalam bentuk tatsniyah, orang tersebut haruslah menganggap bahwa arti زيد adalah tiap sosok yang memiliki nama bukan hanya terkhusus untuk satu orang saja sebagai mana isim 'alam pada umumnya. Kemudian setelah proses itu selesai maka isim alam tadi dimakrifatkan kembali baik menggunakan alat memakrifatkan yang berupa al atau nida'.
  4. Keempat, tidak berupa lafadz yang tersusun (Tarkib) baik tarkib isnadi atau tarkib mazji. Ketika keduanya menjadi isim alam dan yang dikehendaki adalah agar menunjukkan dua makna maka solusinya adalah cukup dengan mengidlofahkan lafadz ذوَا atau ذوَاتَ. Adapun 'alam idlofi seperti ِعبدُالله maka yang ditatsniyahkan adalah bagian awalnya saja sebagaimana itu adalah qoul shohih sehingga 'alam idlofi di atas ketika ditatsniyahkan maka bentuknya akan menjadi seperti عبدَاللهِ.
  5. Kelima, lafadz yang ditatsniyahkan adalah lafadz yang memiliki dua bagian yang bentuk dan maknanya sama. Misalkan seperti زيدانِ yang memiliki dua bagian yang sama dalam bentuk dan maknanya yakni lafadz زبد dan زيد. Dari sini, dua lafadz yang memiliki bentuk berbeda namun maknanya sama seperti جالس dan قاعد atau lafadz yang memiliki dua makna seperti عين yang bisa bermakna mata, mata air, benda, atau lafadz yang memiliki makna hakikot dan majaz seperti لسان (mulut, pena) maka tidak dapat ditatsniyahkan.
  6. Keenam, lafadz yang akan ditatsniyahkan memiliki padanan dalam kenyataannya. Oleh karena itu, tidak bisa ditatsniyahkan seperti lafadz شمس atau قمر sebab kenyataannya kedua lafadz itu tidak memiliki padanan. Artinya, matahari hanya satu atau rembulan juga satu dalam kenyataannya.
  7. Ketujuh, pentatsniyahannya sudah tercukupi dengan tatsniyah lafadz yang Iain, seperti lafadz سواء yang tidak bisa ditatsniyahkan menjadi سواءانِ Hal itu disebabkan tatsniyahnya lafadz سواء sudah tercukupi Oleh tatsniyah lafadz yang lain yakni lafadz سيَّانِ yang sebenarnya adalah tatsniyah dari lafadz سِيٍّ
  • بالخمسة الأفعال Yang dimaksud dengan afalul khomsah yakni adalah setiap fi'il yang bertemu dengan dlomir tatsniyah seperti يفعلان، تفعلاب dlomir jamak seperti يفعلون، تفعلون , atau bertemu dengan dhomir muannats mukhotobah seperti تفعلون. Lima fi'il ini apabila mahal rofa' maka i'rob rofa'nya akan ditandai dengan adanya huruf nun yang berada di akhir kalimat sebagaimana pada contoh di atas.

Post a comment for "Kitab Imriti Nadhom dan Artinya. Bab Tanda-tanda I'rab Bagian II"