Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sahkah Salatnya Perempuan yang Kelihatan Dagunya?

 

Cara yang Benar Memakai Mukena

Dunia mode kini semakin menggeliat dengan cepat. Tidak hanya pada pakaian pesta atau trend busana remaja saja, mode juga merambah pada baju muslim bahkan mukena yang digunakan untuk ibadah shalat.

Bagi kalangan muslimah muda khususnya, mereka cenderung lebih suka memakai "Mukena potongan" (atasan dan bawahan) dilengkapi dengan pernak-pernik di sana-sini untuk memperindah pandangan. Mereka tidak menatap kenyataan lebih jauh bahwa dengan memakai mukena potongan, dagu tidak tertutup dengan baik, dan pergelangan tangan, lengan serta leher bisa tampak dari bawah saat ia rukuk.  

Bagaimanakah cara menutup aurat yang benar menurut fiqh bagi kaum muslimah? dan bagaimana fiqh menanggapi fenomena seperti di atas?

Dalam persoalan menutup aurat, wanita memiliki ketentuan yang lebih ketat ketimbang lelaki. Utamanya mengenai batas-batas aurat hingga cara menutupnya. Perbedaan itu tampak jelas dalam firman Allah swt, yakni dalam surat Al-Nur ayat 30-31:

قل للمؤمنين يغضوا من أبصرهم ويحفضو فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون وقل للمؤمنات يغضضنا من أبصارهن ويحفضن فروجهن ولا يبضين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat'. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya." (QS. Al-Nur: 3031)

Pada poin kata "Ma dzahara minhâ", Sayyidina Ibn Abbas memberi kejelasan bahwa maksudnya adalah perhiasan yang tampak pada telapak tangan dan wajah. Inilah batas aurat wanita, yakni seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan. Sedangkan aurat laki-laki hanyalah anggota tubuh di antara lutut dan pusar. Rasulullah bersabda:

عورةالرجل من سرته إلى ركبته

"Aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lututnya. " (HR. al-Haitami)

Dengan demikian, dalam shalat, seorang wanita harus menutup seluruh anggota tubuhnya selain wajah dan telapak tangan. Batas wajah -sebagaimana dalam wudlu- adalah antara tempat tumbuhnya rambut kepala hingga ujung tulang rahang bawah. Sedangkan lebar wajah adalah antara telinga kanan dan kiri. Sedangkan telapak tangan (al-kaff) adalah bagian telapak tangan luar maupun dalam -selain pergelangan tangan-.

Dari batas-batas ini dapat dipahami bahwa rambut kepala dan dagu (Jawa: janggut) termasuk aurat yang wajib ditutup. Pergelangan tangan juga termasuk aurat yang wajib tertutup saat shalat. Oleh karenanya, cara pemakaian mukena yang tepat adalah dengan  menambahkan kain (kerudung) untuk menutup sebagian kening, agar

rambut kepala bagian depan tidak terbuka dengan gerakan-gerakan shalat. Mukena bagian dagu juga harus ditarik ke depan sampai di bawah bibir, dan sebagian telapak tangan juga harus tertutup. Semua ini dilakukan sebagai langkah antisipatif, demi menjaga sempurnanya pelaksanaan kewajiban. Sebuah kaidah fiqh menyatakan:

مالايتم الواجب إلابه فهو واجب

"Sesuatu yang menjadi sebab terlaksananya kewajiban adalah wajib pula. "

Dalam pelaksanaan shalat, aurat harus tertutup (tidak terlihat) dari semua arah selain bawah. Sedangkan terlihatnya aurat dari arah bawah tidak menyebabkan batalnya shalat, yakni dari bawah lutut bagi pria dan bawah telapak kaki bagi wanita.

Dari ketentuan ini dapat dipahami bahwa terlihamya pusar dari lubang baju pada bagian leher, atau dari sela-sela kancing baju dapat membatalkan shalat, sedangkan terlihatnya lutut atau paha dari lubang sarung bagian bawah tidak membatalkan shalat. Dapat disimpulkan pula bahwa terlihatnya leher atau lengan tangan kaum wanita yang memakai mukena potongan saat rukuk seperti dalam fenomena di atas, dapat menyebabkan batalnya shalat. Demikian menurut pendapat mayoritas ulama Syafi'iyah.

Untuk lebih jelasnya, berikut akan dicantumkan gambar cara benar memakai mukena.

Cara yang Benar Memakai Mukena

Untuk permasalahan dagu, jika merujuk pendapat ulama' madzhab Malilki dan Hanafi, dagu seorang wanita tidak wajib tertutup saat shalat. Dengan demikian, jika hal ini dilakukan oleh wanita awam -yang tidak mengetahui bagaimana cara taqlid kepada madzhab Syafi'i-, maka shalatnya tidak batal. Sebuah kaidah fiqh menyebutkan:

العامى لامذهب له

"Orang awam itu tidak ada madzhab baginya.

Maksud kaidah ini adalah setiap perilaku orang awam, asalkan sesuai dengan salah satu pendapat ulama' madzhab apapun -meskipun ia tidak menyadari atau memahaminya-, maka perilaku tersebut dapat dibenarkan.

Cara menutup aurat bagi kaum wanita pada saat shalat adalah dengan tertutupnya seluruh anggota tubuh selain wajah dan telapak tangan dari segala arah selain dari bawah telapak kaki. Sehingga terlihatnya dagu, leher, pergelangan tangan atau lengan saat shalat memakai mukena potongan dapat membatalkan shalat. Kecuali jika ia tergolong orang awam, maka konsekuensi hukumnya berbeda.

Rujukan

بغية المشترسدین (34) دار الفكر ۱۹۹۵

مسألة ي) قولهم يشترط الستر من أعلاه وجوانبه لا من أسفله الضمير فيها عائد إما على الساتر أو المصلي والمراد بأعلاه على كلا المعنيين في حق الرجل السرة ومحاذيها وأسفله الركبتان ومعاذيهما وبجوانبه ما بين ذلك وفي حق المرأة بأعلاه ما فوق رأسها ومنكبيها وسائر جوانب وجهها ويأسفله ما تحت قدميها وبجوانبه ما بين ذلك، وحينئذلو رؤي صدر المرأة من تحت الخمار التجافيه عن القميص عند نحو الركوع، أو اتسع الكم بحيث ترى منه العورة بطلت صلاتها، فمن توهم أن ذلك من الأسفل فقد أخطأ لأن المراد بالأسفل أسفل الثوب الذى عم العورة أما ماستر جانبها الأعلى فأسفله من جانب العورة بلا شك كما قررناه اه‍ قلت قال في حاشية الكردي وفي الإمداد ويتردد النظر في رؤية ذراع المرأة من كمها مع إرسال يدها استقرب في الإيعاب عدم الضرر بخلاف ما لو ارتفعت اليد ويوافقه في ما في فتاوی م ر وخالفه في التحفة قال لأن هذا رؤية من الجوانب وهي تضر مطلقا اه‍ وفي الجمل وقولهم ولا يجب الستر من أسفل أي ولو لامرأة فلو رؤیت من ذيله في نحو قيام أو سجود لالتقلص ثوبه بل لجمع ذيله على عقبيه لم يضر كما قاله ب روش ا

الفقه على المذاهب الأربعة (ج 1ص 196) الشاملة

أما العورة المخففة فان كشفها كلا او بعضا لا يبطل الصلاة وان كان كشفها حراما أو مكروها في الصلاة ويحرم النظر اليها ولكن بستحب لمن صل مکشوف العورة المخففة أن يعيج الصلاة في الوقة مستورا على التفصيل إلخ 

 قرة العين بفتاوى اسماعيل الزين (ص 59)

واما عند غيرهم كالسادة الحنفية والسادة المالكية فان ما تحت الذقن ونحوه لا يعد كشفه من المرأة مبطلا كما يعلم ذلك من عبارات کتب مذهبهم وحينئد لو رقع ذلك من العاميات اللاتي لم يعرفن كيفية التقليد مذهب الشافعية فان صلاتهن صحيحة لان العامی لامذ هب له

Berlangganan via Email