Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dijaman Moderen Pesantren Jauh Lebih Unggul dari Pendidikan Lain

Mengapa Harus Pesantren
Memasuki era modern seperti sekarang ini setiap manusia harus berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas dirinya agar tetap eksis dalam menghadapi persaingan yang diakibatkan perubahan zaman. Gelar saja nyatanya tidak cukup menjamin akan terwujudnya kehidupan yang mapan jika tanpa disertai Skill yang mumpuni. Hal ini bisa kita buktikan dengan banyaknya "sarjana pengangguran". Sadar dalam menghadapi kenyataan ini, setiap orang tua selalu berusaha dengan lebih selektif dalam memilih tempat pendidikan bagi putra-putrinya.

Akan tetapi sayangnya kebanyakan para orang tua hanya memperhatikan atau fokus pada aspek pendidikan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) saja, tanpa memperhatikan pendidikan agama. Padahal dalam undang-undang 1945 disebutkan bahwa tujuan pembangunan dalam bidang pendidikan adalah memungkinkan para warganya mengembangkan diri baik jasmani maupun rohani.

 Dari statement di atas, dapat kita pahami bahwa pendidikan nasional adalah upaya untuk meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia baik aspek jasmaniyah maupun rohaniyah (bukan hanya jasmaniyah). Dengan adanya situasi seperti ini maka dapat dikatakan bahwa pendidikan yang lebih menitik beratkan pada pengetahuan  umum atau IPTEK tanpa diimbangi  wawasan keagamaan adalah kebijakan orang tua yang sangat keliru meski seseorang sudah mahir dalam bidang teknologi dan pengetahuan umum apabila dalam pendidikan  keagamaannya rendah justru dapat menjerumuskannya ke dalam lembah kenistaan, Tak heran jika banyak petinggi dan pejabat-pejabat Negara lulusan Amerika atau Eropa yang tidak pernah mengenyam bangku madrasah, tega merusak Negaranya sendiri demi kepentingan pribadi, dikarenakan tidak dilandasi dengan keimanan yang kuat. Tak sedikit pula kawula muda yang terjerumus kelembah suram masa depan akibat minimnya pendidikan keagamaan yang mereka terima.

Hal ini disebabkan budaya yang diadopsi dari Negara barat, tanpa disadari telah ditelan mentah-mentah tanpa disaring terlebih dahulu. Misalnya, pergaulan bebas muda-mudi yang jauh dari tuntunan agama. Sungguh naif dan memilukan. Ironisnya musibah semacam ini sudah dianggap hal yang biasa dengan dalih mengikuti trend masa kini.

Kerusakan moral bukan Iagi hal yang patut dipermasalahkan menurut mereka. Hingga tak heran jika di media cetak beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa para siswa-siswi SMA merayakan kelulusan mereka dengan menyewa villa dan membeli alat kontrasepsi. Sekali Iagi, hal ini merupakan alasan mengapa pendidikan agama penting untuk di pelajari sejak dini, mengapa akhlakul karimah masih harus dan selalu diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Status putera-puteri bangsa sebagai pelajar, bukanlah sebuah jaminan untuk meningkatkan intelektualitas maupun moral mereka. Padahal merekalah yang dipastikan akan mengemudi bangsa di masa mendatang, meskipun pada level yang berbeda. Namun, bibit nahkoda bangsa ini sangat naif dan memprihatinkan.

Pada dasarnya memang di era globalisasi seperti saat ini, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang handal dan siap berkompetisi. Akan tetapi dalam situasi yang masih fluktuatif dan ancaman disintegrasi sosial yang mengarah kepada gerakan etnonasionalisme, kita dihadapkan pada problem bagaimana menyiapkan tumbuhnya demokrasi dan tersedianya SDM handal yang tentu saja dilandasi oleh iman-takwa (IMTAQ) serta ilmupengetahuan-teknologi (IPTEK). Dari sinilah seharusnya orang tua sudah mulai berfikir akan masa depan anaknya dalam memilih pendidikan yang tidak hanya menjadikannya manusia yang pandai dalam IPTEK akan tetapi juga terproteksi dari kesuraman masa depan dengan perlindungan keimanan dan takwa.

Pondok Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berbasis Islami memiliki fungsi pokok pendidikan, yang konsekuensi logis dari hal ini adalah adanya keharusan untuk ikut andil dalam meramaikan kompetisi dengan instansi lain, baik swasta maupun negeri dalam rangka mencari pangsa pasar dengan berani untuk lebih terbuka dan siap adu kualitas. Dari hal inilah kemudian kebanyakan pesantren sudah mulai berbenah dalam rangka berkompetisi dalam dunia pendidikan. Kompetisi yang dimaksud adalah dengan turut ambil bagian dan memposisikan diri serta membuktikan diri sebagai suatu lembaga yang juga mampu mengakomodasi tuntutan di era modern, dengan membentuk kepribadian santri sebagai manusia yang tidak hanya bertakwa tapi juga berilmu, memiliki skill tinggi, berahlakul karimah serta memiliki mental yang kuat. Karena output semacam inilah yang dapat membuat pesantren tetap eksis dalam bersaing dan memiliki peran signifikan untuk mempersiapkan bangsa Indonesia guna menghadapi zaman modern seperti saat ini.

Di samping upaya pesantren untuk tetap mengikuti perkembangan zaman dengan mencoba menerima perubahan, pesantren juga tetap berusaha untuk berjalan tanpa menghilangkan ciri khas yang telah mendarah daging. Seperti melestarikan sistem pengajaran tradisional dengan materi pengajaran kitab-kitab klasik yang sering disebut kitab kuning. Di antara pesantren ini ada yang mengelola madrasah bahkan sekolah umum mulai tingkat dasar, menengah, ataş, sampai perguruan tinggi. Adanya perubahan ini merupakan usaha untuk mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik, selaras dengan qoul:

المحافظة على القديم الصالح والاخذ بالجديد الاصلح

“Melestarikan nilai-nilai lama yang baik, dan mengadopsi nilai-nilai baruyang lebih baik”

Memang dewasa ini pondok pesantren tidak hanya memainkan  peran tradisionalnya yaitu transmisi dan transformasi ilmu-ilmu keislaman, pemeliharaan tradisi muslim, dan reproduksi intelektual ulama, namun lebih luas dari itu pondok pesantren telah menjadi wahana pembangunan yang berpusat pada masyarakat. Secara fungsional pondok pesantren telah memerankan multifungsi yaitu sebagai Iembaga pendidikan keagamaan Islam, lembaga pengembangan Intetektual, sosial ekonomi dan iptek, Iembaga wajib belajar pendidikan dasar, lembaga pendidikan kesetaraan, Iembaga pendidikan tinggi, Iembaga pengembangan olah raga, seni, budaya, dan wawasan kebangsaan. Dunia pesantren senantiasa identik dengan dunia ilmu. Definisi pesantren itu sendiri selalu mengacu pada proses pembelajaran dengan komponen-komponen pendidikan yang mencakup pendidik, santri, serta fasilitas tempat belajar mengajar.

Setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan pesantren bisa dikatakan Iebih baik dibandingkan Iembaga Iain, yaitu:

Pertama pesantren dengan pendidikannya yang tidak terbatas pada teori saja, semakin mempermudah dalam menunjang pesantren untuk semakin menyemaikan ajaran-ajaran Islam, yang dapat menjadi benteng dalam menghadapi arus globalisasi. Selain belajar dengan bimbingan guru, para santri juga dapat melakukan proses belajar dengan metode Iain semisal diskusi dengan jadwal dan waktu yang luas. Interaksi antara santri dengan ustadz juga dapat terus berlangsung selama 24 jam dan lingkungan pesantren yang sengaja di setting untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Pendidikan sehari semalam penuh dalam dunia pesantren dengan batas waktu yang relative, serta hubungan guru-murid yang tidak pernah putus adalah keunggulan yang tidak dimiliki oleh lembaga Iain.

Kedua, pendidikan yang dilakukan di pesantren adalah mencoba memberikan pendidikan yang seimbang antara lahir dan batin karena pendidikan di pesantren tidak hanya bersifat teori tapi juga bersifat haliyah atau praktek dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan usaha yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia di era modern seperti saat ini (membutuhkan keseimbangan antara kualitas SDM dan keluhuran moral).

Jadi pesantren dengan ciri khasnya mempunyai berbagai nilai lebih dalam dunia pendidikan moral masyarakat. Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berbasis agama,  pondok pesantren sejak dini sudah mendidik santrinya agar memiliki akhlakul karimah. Sebab, dengan adanya pendidikan akhlakul karimah di masing-masing pesantren itulah, maka pesantren akan tetap mampu berperan aktif dalam "memfilter budaya" 

Terwujudnya suatu keseimbangan serta perpaduan antara pembentukan karakter santri yang berakhlakul karimah, bertakwa, dan memiliki ilmu pengetahuan yang luas adalah tujuan pesantren untuk menghapus image negative masyarakat yang menganggap pesantren hanya mampu menjadikan santri yang bertakwa tanpa disertai skill dan kualitas SDM yang tinggi, sehingga dianggap tak mampu bersaing di era modern, dan hanya menciptakan output jurusan pengangguran dengan masa depan tak jelas. Upaya dalam menghapus image negative masyarakat dengan berbenah iri ini, membuat pesantren memiliki keunggulan pendidikan keimanan dan akhlak, disamping aspek yang lain seperti kemandirian, kedisiplinan dan lain sebagainya yang tercakup dalam lingkup pendidikan pesantren.

Dengan memperhatikan tujuan pendidikan nasional, menunjukkan bahwa pendidikan pondok pesantren menempati posisi yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dalam membentuk warga Indonesia seutuhnya. Pendidikan pondok pesantren merupakan sub sistem dari sistem pendidikan nasional.

Pendidikan pondok pesantren merupakan bagian integral dari sistem pendidikan bangsa yang memiliki posisi strategis untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional, yaitu meningkatkan kualitas warga Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, berdisiplin, terampil, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani.

So, selain membekali para santrinya dengan wawasan keagamaan yang luas dan berakhlakul karimah, pesantren juga memberikan pendidikan umum dalam rangka mempersiapkan peserta didik yang cerdas, bermoral dan memiliki ketrampilan, dan membentuk kader-kader masa depan potensial bangsa yang siap menghadapi tantangan zaman dengan basic Islami, sehingga dapat memberikan kontribusi pemikiran terhadap perkembangan zaman.

Berlangganan via Email