Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

agar Kau Gampang dan Benar-benar Mengenal Allah

Agar Kau Mengenal Allah
Hal pertama yang wajib diketahui oleh setiap Muslim dalam hal beragama ialah mengenAllSWT. dengan dalil akal. Mengenal AAllahSWT. disebut juga sebagai makrifat dalam bahasa Arab. 

Hakikat tersebut telah terdapat dalam  ungkapan para ulama kaman dulu, berupa kalimat yang ringkas tetapi padat dengan isi dan pengertiannya, yaitu seperti ayat yang berikut:  

أول الدين معرفة الله سبحانه وتعالى بالبراهين القطعية والفوز بالسعادة الأبدية

"Permulaan agama itu ialah mengenal Allah SWT. dengan dalil-dalil yang yakin dan (dengannya ia Peroleh) kebahagiaan yang kekal. ”

Di antara banyak kebenaran, maka hanya satu yang dinamakan "benar secara mutlak", kebenaran yang tidak boleh dibantah sama ada oleh akal atau lainnya. Inilah hakikat yang mesti diterima sepenuhnya oleh manusia tanpa keraguan.

Kebenaran merupakan dasar dan tonggak yang kuat, yang telah diciptakan oleh Allah SWT.  untuk makhlukNya. Dengan hal itu jelaslah bahwa Allah menjelaskan kepada makhlukNya agar tidak menempatkan atau menganggap asal kebenaran itu dari makhluk yang ada di dunia, tetapi mereka perlu tahu dan mengakui bahawa Allah Zdat Yang Maha Esa yang mampu menciptakan kebenaran tersebut.

Hadis Ibnu Umar RA. Diriwayatkan dari Safwan bin Muhriz RA. katanya: Seorang lelaki bertanya pada Ibnu Umar "Apakah sabda Rasulullah SAW. semasa kamu berdua-duaan dengannya?” Ibnu Umar menjawab: "Aku mendengar baginda bersabda yang berbunyi: Pada hari kiamat Allah akan menaungi orang Mukmin berhampiran denganNya. Allah meminta pengakuan terhadap dosa yang dilakukan dengan berfirman: Adakah kamu tahu? Orang Mukmin menjawab: Aku tahu, wahai Tuhan. Allah berfirman:

Aku telah menyembunyikannya untukmu di dunia dan kini Aku mengampunkan untukmu. Lalu diberikan catatan kebaikannya. Sedangkan orang-orang kafir dan munafik dipanggil mengikut nama masing-masing. Mereka itulah orang-orang yang mendustakan Allah. " 

Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa Allah  tidak memerlukan sekutu atau pembantu untuk menciptan apa saja yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah menjadikan setiap makhluk, termasuk kebenaran yang sedang kita katakan ini dengan keutamaan dan kedudukan tertentu serta dengan pendekatan yang tertentu juga. Akhirnya kita perlu ingat dan sedar bahwa Allahlah yang mentadbir apa saja masalah yang berhubungan dengan makhlukNya.

Ketahuilah bahawa Allah SWT. mempunyai sifat yang serba sempurna (mempunyai segala jenis kesempurnaan yang sesuai dengan kedudukan serta kekuasaanNya sebagai Pencipta dan Pemilik segala sesuatu). 

Kesimpulannya, Allah mempunyai segala sifat Kamaliyah (kesempurnaan), maka dengan sendirinya Dia suci, (mustahil bagiNya) setiap bentuk sifat kekurangan, kelalaian dan kecacatan. Segala sesuatu yang diciptakan Allah, sama ada unsur keindahan, keserasian dan keharmonian tentulah menyertai setiap ciptaan dalam proses penciptaan dan pengaturan (ciptaanNya) tersebut.

Adalah sesuatu yang masuk akal apabila setiap hasil ciptaan Allah yang sengaja diubah oleh tangan-tangan jahil manusia dengan maksud untuk mengenepikan ketentuan yang sudah ditentukan Allah, maka akibatnya sudah pasti akan berantakan. Kerusakan dan kehancuranlah yang akan terjadi jika hukum, peraturan, sunnah dan ajaran baginda diabaikan.

Tujuh lapis langit dan bumi ini diciptakan oleh Allah dengan hak dan Dia telah mengatur segala persoalannya melalui kebijaksanaan hukum-hukumNya.

Allah SWT. berfirman:

"Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah kedua-duanya  telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah  yang mempunyai 'Arasy daripada apa yang   mereka sifatkan. "(Al-Anbiya': 22)

Di antara semua ciptaan Allah, maka manusia merupakan salah satu jenis makhluk dan sejumlah makhlukNya yang paling mulia. Berjaya atau tidaknya hidup manusia bergantung kepada pengenalannya terhadap kebenaran dan kepatuhannya untuk mengikuti. Rusaknya hidup manusia merupakan natijah yang masuk akal dan kejahilannya terhadap kebenaran atau biarpun ia mengetahui maka ia mendurhakainya. 

Sesungguhnya Allah s.w.t. benar dan setiap yang berasal dariNya adalah benar, termasuk perintahNya dan peraturanNya.

Puncak kerusakan dalam kehidupan manusia bermula dari sikap durhaka kepada Allah, enggan mematuhi perintah dan peraturanNya, serta terhadap apa yang telah diturunkanNya yang berupa kebenaran.

Manakala, keharmonian kehidupan manusia bermula dari faktor kuatnya iman kepada Allah s.w.t., kepada semua yang telah diturunkan dari sisiNya, sambil bersikap tegas dan iltizam pada kehendak serta perintahNya yang meliputi setiap aspek kehidupan.

Allah s.w.t. berfirman:

"Maka jika datang kepada kamu hidayah dariKu, lalu siapa yang mengikuti hidayahKu, dia tidak akan sesat dan tidak   akan celaka. Siapa yang berpaling dari    peringatanKu, maka sesungguhnya dia hidup dalam keadaan yang sukar dan Kami akan menghimpunnya di hari kiamat dalam  keadaan buta.”(Thaha: 123-124) 

Lalu, siapakah orang yang taat dan patuh kepada kebenaran? Mereka ialah golongan yang beriman kepadaNya, yang selalu mengingatNya, yang senantiasa merasakan keagungan dan kesucianNya. Manakala orang yang tidak berzikir kepada Allah SWT. maka dia telah berpaling dari hidayahNya.

Semua manusia di dunia ini akan menghadapi dua persoalan tersebut, yaitu mengingat Allah dan mengikut hidayahNya, atau melupakannya dan tersesat.

Dengan penjelasan itu, maka jelaslah bahwa hanya dua jalan yang perlu ditempuh oleh setiap manusia. Yaitu, pertama jalan keimanan dan hidayah  yang memberi kebahagian di dunia dan akhirat,   manakala yang kedua ialah jalan kekafiran dan  kesesatan yang menyebabkan kesukaran di dunia dan  akhirat.

Jalan yang benar dan jalan yang sesat perlu diketahui dengan tepat dan untuk tujuan tersebut diperlukan ilmu pengetahuan yang dalam. Maka dapatlah dikatakan bahwa manusia akan menjadi mulia kerana ilmunya, lebih-lebih lagi jika ilmu tersebut diajarkan kepada orang lain, terutama sekali ilmu-ilmu yang berkaitan dengan prinsip-prinsip keimanan dan akidah.

Pada masa yang sama, manusia juga mesti membenteng diri dan imannya dengan sejumlah pengetahuan tentang kekufuran, sebab-sebabnya dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya.

Manusia mempunyai tabiat dan kecenderungan mengikut kebahagiaan jika ia tahu jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhiratnya, maka ia akan sangat iltizam pada jalan tersebut dan tidak akan menyimpang darinya. Ia tidak akan menempuh jalan yang menyukarkan dirinya, bahkan dia berusaha menjauhi jalan-jalan kesesatan itu.

 Semoga Allah akan memberikan ilmu yang memadai dan bermanfaat kepada anda semua, supaya  kaum Muslimin mendapat ilmu tentang kebenaran, sehingga kita dapat memahami perkara keimanan berserta rukun-rukunnya dan pengetahuan tentang  gejala kekufuran berserta penyebabnya serta jalur-jalur yang menjadi tempat masuknya.

Allah SWT. satu-satunya tempat untuk kita berserah dan menggantungkan segala harapan. Sebab apabila yang kita tempuh ini benar, maka sesungguhnya kebenaran datangnya dari Allah dan setiap kesalahan yang kita lakukan atau yang menimpa diri kita datangnya dari syaitan.Allah SWT. firman:

"Rasul telah beriman kepada al-Quran yang telah diturunkan kepadanya dari Tuhannya; demikian pula orang-orang yang beriman. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan rasul-rasulNya. (Mereka berkata): Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya. Dan mereka berkata: Kami dengar dan kami patuh. (Mereka berdoa): Ampunilah kami, ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.(Al-Baqarah: 285)

Sedangkan dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, Allah turunkan kepada Rasulnya, serta kitab yang  Allah turunkan sebelumnya.  Barang siapa yang kafir pada Allah, malaikat-malaikatnya, kitab-kitabnya, Rasul-rasulnya dan hari kiamat  maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Nisa': 136)

Menurut ayat yang lain juga dijelaskan:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat suatu kebaikan, namun kebaikan adalah kebaikan orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikatmalaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim dan orangorang miskin.(Al-Baqarah: 177)

Menurut sebuah hadis yang masyhur disebutkan bahwa: Suatu ketika Jibril datang menemui Nabi SAW. dengan berupa seorang Arab dan bertanya kepada baginda perihal Islam, iman dan ihsan. Maka Nabi SAW. menjawab: "Iman ialah beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhirat dan beriman kepada qada dan qadar Allah yang baik serta yang buruk. " (Riwayat Muslim dan Umar bin Khattab, Syarah Nawawi hal 1157)

Dengan dalil-dalil itulah, enam perkara tersebut kemudian dikenal sebagai rukun iman. Keenam perkara itu merupakan hikmah pengutusan para rasul dan diturunkan kitab-kitabNya.

Iman seseorang tidak memadai kecuali jika ia telah mengimani semua rukun itu, sebagaimana telah ditentukan oleh nas-nas dalam al-Quran dan sunnah. Barang siapa menyangkal (mengingkari) satu saja dari enam rukun iman tersebut, maka pada ketika itu dia telah keluar dari iman dan telah masuk ke dalam golongan orang-orang kafir. Dengan kata lain, imannya sudah terbatal dengan sendirinya dan ia tidak lagi diakui sebagai orang yang beriman kepada Allah. 

Berlangganan via Email