Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hukum Bayar Tukon dalam Pernikahan Adat Jawa

Hukum Bayar Tukon dalam Pernikahan Adat Jawa

Ngajionline.net - Pernikahan adalah momen yang sangat istimewa dalam hidup seseorang. Setiap daerah, memiliki budaya yang berbeda-beda dalam pelaksanaan momen sakral ini. Salah satunya adalah budaya bayar tukon (Jawa). Bayar tukon adalah pemberian semacam hadiah (berupa uang atau barang) dari calon mempelai laki-laki untuk calon mempelai wanita sebelum akad nikah dilakukan. Terkadang pemberian ini sekaligus menjadi mas kawin pernikahanı atau sekedar uang pengikat. Jika ternyata akad nikah tidak jadi dilangsungkan, maka pemberian tersebut harus dikembalikan.

Apa status uang bayar tukon menurut fiqh? Dan bagaimana konsekuensi hukum fiqh terkait uang tersebut?

Nikah adalah perilaku sunnah yang dapat menyempurnakan nilai Islam seseorang. Sebab, nikah bisa menghindarkan seseorang dari perbuatan dosa. Dengan menikah, mata dapat terjaga dari perbuatan maksiat, nafsu seseorang pun tersalurkan secara benar, dan menjadi tidak liar. Dalam sabdanya, Rasulullah saw sangat menganjurkan nikah dan mengancam orang-orang yang membenci pernikahan.

يامعشرالشباب من الستطاع الباءة فليتزوج فإنه أغص للبصروأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء

"Wahai para pemuda, barang siapa dari kalian yang mempunyai biaya maka nikahlah karena nikah lebih memejamkan mata dan lebih menjaga diri dari zina. Dan barang siapa tidak mampu maka berpuasalah, sesungguhnya puasa adalah perisai baginya (dari berbuat maksiat) ". (HR. al-Bukhari)

Secara fiqh, sebenarnya pelaksanaan akad nikah sangatlah mudah. Cukup dengan durasi waktu tidak lebih dari 5 menit, akad nikah bisa dilaksanakan. Namun, karena nikah merupakan bagian dari perjalanan hidup yang bakal terukir dalam sanubari, prosesi akad nikah pun kemudian berkembang dan berasimilasi dengan budaya daerah. Salah satu contohnya adalah budaya bayar tukon di Jawa sebagaimana dijelaskan di atas.

Jika ditelaah lebih dalam, bayar tukon sebenarnya bukan hanya merupakan budaya Jawa saja. Dalam kitab-kitab fiqh, budaya ini dikenal dengan istilah al-jihaz atau ash-shubluiyyah. Al-Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami memberi pernyataan bahwa status al-jihaz sangat tergantung pada niat calon mempelai laki-laki sebagai pemberi. Jika ia berniat memberi tanpa pamrih, maka al-jihaz menjadi hadiah. Jika ia niatkan sebagai bagian dari mas kawin yang dibayarkan sebelum akad, atau sebagai uang pengikat yang akan ia minta kembali jika akad nikah ternyata dibatalkan, maka keberadaan al-jihaz pun sesuai dengan niat tersebut. Pemberian tersebut boleh diminta kembali jika akad nikah tidak jadi dilangsungkan. Secara umum pendapat ini sesuai dengan hadis Rasulullah saw:

إنماالأعمال بالنيات

"Sesungguhnya semua amal tergantung pada niat. " (HR. al-Bukhari)

Hukum harta bayar tukon tergantung pada niat calon mempelai laki-laki sebagai pemberi, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Menjadi hadiah jika ia berniat memberikannya tanpa pamrih Dengan konsekuensi, tidak dapat diminta kembali meskipun akad nikah digagalkan.
  2. Menjadi bagian dari mahar (mas kawin) jika ia meniatkannya Dengan konsekuensi, pihak isteri tidak dapat menggunakannya sebelum akad nikah dilangsungkan dan dapat diminta kembali jika akad nikah digagalkan.
  3. Menjadi 'harta pengikat” jika diniatkan demikian, dengan konsekuensi dapat digunakan langsung oleh calon isteri sebelum akad nikah dilangsungkan. Imam al-Ramli menyatakan ”harta pengikat" boleh diminta kembali jika akad nikah tidak jadi dilangsungkan. Sedangkan Ibn Hajar berpendapat; Jika yang menggagalkan pernikahan adalah pihak calon isteri maka 'harta pengikat” boleh diminta kembali. Namun, jika yang menggagalkan adalah pihak calon suami, maka tidak bisa diminta kembali.

Catatan:

Jika terjadi perselisihan antara calon isteri dan calon suami mengenai status al-jihaz, maka yang dimenangkan dalam persidangan adalah pendapat calon suami, sebab ia lebih tahu niat dalam hatinya.

Rujukan

الفتاوى الفقهية الكبرى (ج 4 ص 111) الجامع

باب في الصداق (وسئل) عمن خطب امرأة وأجابوه فأعطاهم شيئا من المال يسعى الجهاز هل تملكه المخطوبة أولا بينوا لنا ذلك؟ (فأجاب) بأن العبرة بنية الخاطب الدافع فإن دفع بنية الهدية ملكته المخطوبة أو بنية  حسبانه من المهر حسب منه وإن كان من غير جنسه أو بنية الرجوع به عليها إذا لم يحصل زواج أولم يكن له نية لم تملكه ويرجع به عليها

بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضري (ص ۲۱۶)

(مسألة ش) دفع المخطوبته ما لاثم ادعى أنه بقصد المهر وأنكرت صدقت هي إن كان الدفع قبل العقد وإلا صدق هو اه‍ قلت وافقه في التحفة وقال في الفتاوى وأبو مخرمة يصدق الزوج مطلقا ويؤخذ من قولهم صدقت أنه لو أقام الزوج بينة بقصده المذكور قبلت (مسألة ش) دفع لمخطوبته ما لابنية جعله في مقابلة العقد استرده إذا لم يتفق العقد ويصدق في ذلك اه‍ قلت ورجح ذلك في التحفة وخالف في فتاويه فقال ولو أهدي لمخطوبته فاتفق أنهم لم يزوجوه فإن كان الرد منهم رجع بما أنفق لأنه لم يحصل غرضه الذي هو سبب الهدية أو منه فلا رجوع لانتفاء العلة أه‍ وأفتى الشهاب الرملي بان له الرجوع أيضا مطلقة سواء كان الرد منه أو منهم كما لو مات فيرجع في عينه باقية وبدله تالفا مأكلا ومشربا وحليا أه‍

اعانة الطالبين (ج 3 ص 144)

ونقل شيخنا ابن زياد عن فتاري ابن الخياط إذا أهدى الزوج للزوجة بعد العقد بسببه فإنها تملكه ولا يحتاج إلى إيجاب و قبول ومن ذلك ما يدفعه الرجل إلى المرأة صبح الزواج ما يسمى صبحية في عرفنا وما يدفعه إليها إذا غضبت أو تزوج عليها فإن ذلك تملكه المرأة بمجرد الدفع إليها (قوله بعد العقد) يفيد أنه إذا كان قبل العبد لا تملكه إلا بإيجاب وقبول لكن قد علمت أن قوله أهدی يقتضي أنه هدية وعليه فلا فرق على أنه سيأتي آخر الباب أن من دفع لمخطوبته طعاما أو غيره ليتزوجها فرد قبل العقد رجع على من أقبضه فيقتضي حينئذ أنه إذا لم يرد لا يرجع فيه فهي تملك ما دفع لها قبل العقد لاجله من غير صيغة

Berlangganan via Email