Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kyai Khozin Panji, Ipar KH Hasyim Asy'ari Sekaligus Pencetus Pertama Hataman Kitab di Bulan Ramadan

Kyai Khozin Panji
Yayasan Al-Khoziny di ambil dari nama sang pendiri pesantren pertama yaitu KHR. Khozin. Nama lengkap beliau serta silsilah beliau KHR. Khozin bin Khoiruddin bin Abdul Malik bin Ahmad Jazuli bin Raden Mustofa (alias Mbah Jarot, Ngepo Sidoarjo). Beliau dilahirkan pada tahun 1847 M/ 1259 H di sebuah desa kecil yang terletak di Getok Mojosari Mojokerto. Beliau bukan penduduk asli Siwalan Panji, namun karena prestasi belajar yang cemerlang bersama temannya yaitu KHR. Hasyim Asy'ari (Tebu Ireng Jombang) beliau diambil menantu oleh KHR. Ya'kub Panji.

Dunia Pendidikan Beliau.

Beliau mengawali pendidikannya di Siwalan Panji Sidoarjo setelah itu melanjutkan ke pulau Madura untuk berguru kepada KHR. Moh. Kholil Bangkalan yang merupakan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dan masyhur pada masa itu. Tidak cukup hanya sampai di situ beliau masih merasa haus akan disiplin ilmu memilih untuk melanjutkan studi beliau ke Makkatul Mukarromah. Beliau belajar di sana sekitar 6 tahun lamanya dengan di dampingi istri tercinta beliau NY. Fatimah binti KHR. Ya'kub bin Hamdani bin Sofyan bin Hasan Sanusi (Mbah Slego Pasuruan) bin Sa'ad bin Sukuruddin bin Habib Sholeh (Mbah Semendi Winangon Pasuruan) bin Habib Sultan Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati Cirebon) yang masih cucu dan keturunan baginda Rasulullah Saw, yang ke 23. 

Hasil pertalian kasih beliau dengan Ny. Fatimah sang isteri tercinta, Allah mengaruniai seorang putra yang dilahirkan di kota Makkah dengan paras yang tampan rupawan yang kelak akan menjadi orang yang berbudi pekerti luhur bernama M. Abbas. Sementara putri dari KHR. Ya'kub yang dijodohkan dengan KH. Hasyim Asy'ari tidak dikaruniai keturunan.

Kontribusi Beliau Kepada Nusa Dan Bangsa

Pertama: tidak pernah kompromi (kerja sama) dengan kolonial Belanda. Suatu ketika pondok Panji mendapat kehormatan akan dikunjungi oleh Gubernur Jenderal yang bermarkas di Jakarta pada tahun 1926. Setelah tiba hari H-nya, dari jalan raya Buduran sampai Panji kurang lebih 1 km (arah selatan sungai yang sekarang menjadi jalan Panggung) di hampari permadani merah, sementara pada malam harinya seluruh santri dikumpulkan oleh Kyai Khozin untuk beristighosah membaca Yasin, dengan idzin Allah, Gubernur Jenderal tidak jadi berkunjung karena mobilnya mengalami kecelakaan di Bandung.

Ada beberapa faktor yang melatar belakangi kunjungan Jenderal ke desa Panji yaitu:

  1. Masih tersimpan rapi salinan dokumen di ruang arsip Belanda, sebuah sertifikat yang di berikan kepada KHR. Ya'kub Hamdani Panji, yang karena jasanya kapal pesiar Belanda dengan tujuan Surabaya-Jeddah Saudi Arabia mengangkut jama'ah haji terselamatkan. Syahdan ditengah-tengah samudera kapal tersebut mesinnya ngadad karena kekurangan air tawar. Nahkoda mengumumkan kepada semua jamaah haji bahwa kapalnya mati yang disebabkan kekurangan air tawar. Dan memerintahkan semua jamaah haji berdoa dengan harapan menemukan air tawar. Saat itu doa dipimpin oleh KHR. Ya'kub dengan idzin Allah doa beliau dikabulkan seketika dan kapal dapat berlayar kembali. Sebagai rasa terima kasih, nahkoda memberikan sertifikat kepada KHR. Ya'kub Hamdani yang isinya "fasilitas gratis bagi anak cucu KHR. Ya'kub hamdani selama kapal ini masih berlayar". Namun KHR. Ya'kub Hamdani membakar sertifikat itu.
  2. KHR. Khozin suka membuka Iahan untuk masjid beserta bangunannya, di antaranya Masjid Agung Alun-alun Sidoarjo dan Masjid Al-Karomah (JI.  Raya Buduran).
  3. Menggencarkan dunia pendidikan dan KHR. Khozin pelopor dan pencetus ide pertama di dunia untuk mengadakan hataman di bulan Romadhon. Beliau mendapat ijazah langsung dari Imam Syafi'i melalui RKH. Kholil Bangkalan (perjumpaan lewat ruhaniyah)- KHR Khozin Panji Sidoarjo vaknya di bidang Tafsir, KHR Kholil Bangkalan vaknya dibidang Nahwu, KHR. Hasyim Asy'ari vaknya dibidang Hadits, Kiyai Langitan Tuban vaknya di bidang Fiqh. Jika bulan Ramadhan tiba. Semua santri Bangkalan oleh Kyai Kholil di perintah untuk hataman ke Panji.

Akhlak dan Budi Pekerti Beliau

  • Pertama: Perangainya sangat lemah lembut, sopan santun. Kalau berjalan tangannya tidak pernah melambai (lambean: jawa). Beliau mengait payung jika berjalan untuk menghindari lambean karena khawatir berjalan dengan sombong
  • Kedua: Kediaman beliau (dhalem: jawa) selalu terbuka untuk tamu 24 jam. Suatu ketika pada waktu tengah malam ada rombongan 50 orang yang datang bertamu, sedangkan ketika itu Kyai Khozin tidak mempunyai sesuatu apapun, hanya sedikit nasi beserta lauknya yang hanya cukup untuk satu orang, akan tetapi dengan idzin Allah (karomah) lauk pauk beserta nasi tersebut mampu mencukupi rombongan. Caranya lampu di ruang tamu agak diredupkan, Kyai Khozin ikut makan, walaupun hanya pura-pura alias untuk menghormati tamu.
  • Ketiga: Zuhud dalam kehidupannya (menghindari kemewahan dan kenikmatan duniawi).
  • Keempat: Dhalemnya terbuat dari gubuk, dindingnya dari anyaman bambu (sesek: jawa), atapnya dari alang-alang. Namun ketika musim tiba tidak pernah menetes apalagi kebocoran. Selalu tampak rapi dan bersih. Hawanya sejuk walau musim kemarau. Membuat betah siapapun.

Beliau adalah orang yang tidak pernah menggantungkan hidupnya pada orang Iain. Mulai mencuci piring, pakaian sampai menyapu halaman dilakukan sendiri. Jika ada santri datang membantu, beliau mengatakan secara diplomatis "Kang... ! Kamu disini bukan untuk menyapu tapi untuk mengaji" Juga dalam segala hal beliau selalu istiqomah dan tepat waktu. Beliau merawat anak-anak yatim untuk dijadikan anak angkat beliau. Di antara mereka ada yang menjadi orang sukses di Pakistan.

Beliau wafat pada hari Jum'at bulan Rabiul Awal pada usia 96 tahun tepatnya pada tahun 1943 M/ 1355 H. Dan dimakamkan bersama para leluhur pendiri pondok Panji di pemakaman Siwalan Panji Buduran Sidoarjo.

Berlangganan via Email