Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Berdirinya Pesantren Hingga Tokoh Indonesia dan Dunia yang dilahirkannya

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren
Dari Perspektif Sejarah & Pencapaian Pesantren

Sebagaimana diketahui, Pesantren merupakan lembaga Pendidikan kompleks yang mempunyai Ciri khusus keislaman sebagai identitasnya dan mempunyai Ciri umum yang berfungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewariskan nilai budaya pada generasi penerus, serta mempersatukan para santri agar dapat hidup ditengah-tengah masyarakat sesuai dengan potensi, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.

Pesantren merupakan artefak peradaban yang dibangun sebagai institusi Pendidikan keagamaan yang bercorak tradisional, lebih bersifat unik  dan indigenous (Majid 1997). Keaslian maupun Keunikan Pesantren tampak dalam perawatan dan pelestarian tradisi dan ritual keagamaan yang senantiasa dipertahankan sebagai upaya melestarikan khazanah ilmu ke-lslaman yang merupakan warisan dari Nabi Muhammad S.A.W.

Dalam dunia Pesantren terdapat suatu kecenderungan memperluas fungsionalnya, yaitu bukan saja sebagai Pendidikan agama, melainkan  juga sebagai lembaga Pendidikan dan sosial. Sehingga tugas yang digarap bukan saja masalah yang berkaitan dengan agama, tetapi juga masalah yang telah menjadi kasus di masyarakat.

Karakteristik Pondok Pesantren

 Pondok Pesantren sebagai lembaga Pendidikan Islam berbeda dengan Pendidikan Iainnya baik dari sistem Pendidikannya ataupun unsur Pendidıkan yang dimilikinya. Perpaduan dari sistem pendidikannya, terlihat dari proses belajar mengajarnya yang cenderung sederhana dan tradısional, sekalipun juga terdapat Pesantren yang bersifat memadukan dengan sistem Pendidikan Islam modern, namun tetap menekankan untuk menelorkan kaliber-kaliber yang mumpuni dalam segala aspek kehidupan, baik agama maupun negara. Yang mencolok dari perbedaan itu merupakan unsur dominan dalam keberadaan Pondok Pesantren. Bahkan unsur dominan itu merupakan ciri-ciri (Karakteristik) khusus Pondok Pesantren.

Ada beberapa ciri yang secara umum dimiliki Pondok Pesantren sebagai lembaga Pendidikan sekaligus sebagai lembaga sosial yang secara informasi itu terlibat dalam pengembangan masyarakat pada umumnya. (Zamakhsyari Dhofir: 1982, 44) mengatakan ada lima unsur Pondok Pesantren yang melekat atas dirinya, lima unsur itu meliputi: Pondok, Masjid, Pengajaran kitab-kitab klasik, Santri dan Kyai.

Dengan unsur-unsur di atas, Pondok Pesantren bukan hanya terbatas dengan kegiatan-kegiatan Pendidikan keagamaan, melainkan dapat mengembangkan sayapnya sebagai suatu wahana lembaga pengembangan potensi masyarakat. Oleh karena itu Pondok Pesantren sejak semula merupakan ajang mempersiapkan kader masa depan yang berguna.

Eksistensi Pesantren Dalam Mencetak Kader Bangsa 

Eksistensi Pesantren turut andil mewarnai perjalanan sejarah bangsa, karena itu, Pesantren semakin memantapkan posisinya di mata komponen bangsa Iainnya. Berbekal kemampuan dalam mengelola tradisi salafi dan budaya lokal, Pesantren mampu memproduksi kaderisasi yang menjadi pelopor perubahan kultur bangsa, mulai dari moral, corak pemikiran, ritual keagamaan dan budaya spiritual Iainnya, seperti wali-wali sembilan (wali songo; red) yang kita kenal sebagai pembawa ajaran Islam pertama kali di Indonesia. KH Ach Dahlan (pendiri organisasi Muhammadiyah). KH Haysim Asy'ary (pendiri organisasi NU). KH Abdurrahman Wahid (GusDur) sang agamawan, negarawan, politikus, budayawan, seniman. KH Hasyim Muzadi dan KH Sahal Mahfudz (sang Penggagas Fiqh Sosial yang mengkontekstualkan dan mengartikulasikan Pemikiran Klasik di Era Modern), yang kedua-duanya merupakan ulama' kharismatik yang sangat terkemuka di Indonesia, dan Iain sebagainya. Mereka itulah, yang telah merekontruksi budaya Indonesia, dari aspek keagamaan, kenegaraan serta sosial, yang semua itu merupakar hasil dari karya pesantren. 

Kiprah Pesantren dalam jati dirinya, telah memiliki kemajuan dan pencapaian yang begitu Iuhur,  dibanding Lembaga Pendidikan  Iainnya, karena karakter Pesantren begitu mumpuni dalam mendidik masyarakat global, serta tidak menggeser nilai Iuhur syari'at Islam, dengan memprioritaskan pendidikan moral dan perkembangan pemikiran anak bangsa. Jadi, tidak heran, apabila Pesantren menjadi center pendidikan mandiri di Indonesia.

Latar Belakang Berdirinya Pondok Pesantren

Adapun awal mula berdirinya Pondok Pesantren itu berawal dari madrasah yang kemudian, karena banyaknya penuntut ilmu yang menetap (Nyantri) dengan tersedianya tempat penginapan (untuk lebih mengoptimalkan proses belajar para penuntut ilmu), maka tersebutlah istilah Pondok Pesantren.

Kalau melihat sejarah berdirinya lembaga pendidikan ini (Pesantren), ternyata Pesantren memang mulai dekade yang silam, telah menuai hasil produk lokalnya yang begitu empirik. Pada masa dinasti Abbasiyah, tepatnya pada pemerintahan Al Ma'mun, telah didirikan lembaga pendidikan, yang disebut dengan Baitul Hikmah (pusat pendidikan ke-lslaman dan pusat riset Ilmiyah), berdiri pada tahun, 830 M yang terletak di Hasyimiyah di Kota Baghdad, Lembaga Pendidikan ini menjadi pusat keilmuan, mulai dari riset / penelitian, penerjemahan kitab-kitab Yunani serta pusat pengembangan ilmu Pendidikan Islam secara umum, di Baitul Hikmah ini pulalah, para kader Muslim memiliki fasilitas dalam mensuplay Pendidikan dengan layak serta peluang dan pelayanan yang nyaman dalam mengembangkan potensinya. Dengan latar belakang Baitul Hikmah ini pula, umat Islam mempunyai kemajuan dan pencapaian tentang ilmu pengetahuan, dengan keseriusan dalam menjalankan program yang direncanakan, Islam telah mencapai prestasinya, baik dari aspek keilmuan, budaya atau peradabannya, sehjngga Islam pada masa itu, menyandang piala "masa-masa keemasan İslam" Sedangkan perkembangan selanjutnya dimasa kolonialisme Belanda, kedudukan Pesantren adalah sebagai lembaga pendidikan yang berperan penting dalam mempelajari agama Islam (mulai dari bidang moral, spiritual dan etika sosial), hal ini diwujudkan sebagai salah satu modal Pendidikan masyarakat pribumi, untuk mengantisipasi terjadinya dekadensi moral dan peradaban.

Perkembangan pondok Pesantren di Indonesia sekarang ini secara kuantitas dan kualitasnya cukup menggembirakan, hal ini dapat dilihat dengan munculnya pendidikan Islam (Pesantren) dimana-mana, bahkan yang lebih menggembirakan lagi yaitu Pesantren telah dilengkapi pengetahuan-pengetahuan umum untuk bersaing terhadap industrialisasi di pelbagai daerah tanpa mengurangi adanya jasa penghargaan kepada para tokoh lembaga Pendidikan agama Islam.

Professionalitas Alumnus Pesantren dan Peran Sertanya Dalam Membangun Pradaban Islam Apabila kita menengok masa silam, tepatnya pada periode klasik (6501250), kita akan menyaksikan dengan jelas peran alumnus pesantren dalam menguasai peradaban dunia. Pada masa itu, alumnus Pesantren banyak yang menguasai pelbagai bidang ilmu pengetahuan dan peradaban.

Dalam lapangan filsafat, nama al Farobi, ibn Sina dan İbn Rusyd sangatlah terkenal sebagai filsuf terkemuka serta menelorkan berbagai karya dari tangan beliau, mulai dan filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi filsafat aristoteles. Di periode ini pulalah ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan agama disusun. Dalam lapangan penyusunan hadist-hadist Nabi yang terkemuka semisal Imam Bukhori dan Muslim (Abad IX); dalam lapangan fiqh, kita mengenal nama Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi'i dan Imam Hanbali. (abad VII dan IX); dalam bidang Tafsir, Imam At Tobari (839-923 M); dalam lapangan sejarah Ibn Hisyam (abad VIII) Ibn Sa'd (abad IX) dll, dalam lapangan ilmu teologi, Washil bin Atho', Ibn Hudzail, Abul Hasan AI Asy'ari dan AI Maturidi (abad IX dan X); dalam lapangan mistisisme (Tasawwuf), Dzunnun Al Mishri, Abu Yazid AI Busthami dll; dalam lapangan sastra terkenal Abul Farroj al Isfahani dengan bukunya kitab Al Aghony. Dipertengahan abad X keluarlah pula Alfu Lailah wa Lailah (Seribu Satu Malam) yang disusun oleh AI Jaisyiari.

Ringkasnya, bahwa kaliber-kaliber yang mempunyai kapasitas keilmuan seperti di atas merupakan alumnus atau orang-orang yang sudah mengenyam sistem Pendidikan Pesantren. Jadi, patutlah kita bangga telah mempunyai senior seperti beliau-beliau di atas. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, sanggupkah kita selaku generasi beliau, untuk meneruskan keilmuannya, sehingga mampu merubah paradigma kekolotan menjadi paradigma ilmiyah? Falyatafakkar!.

Berlangganan via Email