Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bolehkah Suami Menerima Anak Hasil Selingkuh Istri?

Bolehkah Suami Menerima Anak Hasil Selingkuh Istri?

Saat ini, bekerja di luar negeri merupakan alternatif bagi mereka yang menemui kebuntuan dalam memenuhi kebutuhan. "Setiap usaha pasti menjumpai resiko", demikian adagium (pepatah) lama mengatakan. Kabar tentang TKI yang mengais nafkah di luar negeri membuat kita mengelus dada. Betapa tidak, berita tentang TKW yang menjadi korban aksi "behind the selimut" kerap menghampiri headline surat kabar Indonesia. Bahkan, tidak jarang perlakuan tidak senonoh (zina) tersebut membuahkan keturunan.

Kesedihan makin memuncak, tatkala mereka dipaksa pulang ke daerah asalnya dengan membawa anak yang tak terencana. 

Entah karena dungu atau karena takut kehilangan istri tercinta, suami yang telah bertahun-tahun menanti kedatangan istri dari luar negeri, dengan lapang dada menerima anak made in luar negeri tersebut untuk tinggal bersamanya.  Padahal ia tahu bahwa anak itu bukan hasil peras keringat banting lututnya.

Melihat reaksi suami yang seperti itu bagaimana pandangan agama dan salahkah suami menerima kehadiran anak tersebut untuk tinggal bersamanya?
Agama Islam mensyari'atkan pernikahan dengan berbagai syarat dan ketentuan sebagai wujud kepedulian syara' atas nasab seseorang. Sebab, persoalan nasab (jalur keturunan) adalah aspek yang urgen dalam tatanan syari'at. Persoalan nasab sangat berkaitan dengan problematika waris, wali nikah, dll. 

Ditetapkan dalam syari'at islam bahwa ikatan nasab seorang anak dapat menyatu dengan ayahnya jika ia terlahir dari hasil hubungan yang terangkum dalam bingkai pernikahan yang sah, atau karena terjadinya wathi syubhah (hubungan badan karena kekeliruan, seperti; seorang lelaki menyetubuhi wanita yang ia kira adalah istrinya). 

Nasab seorang anak yang terlahir dari ibunya otomatis akan menyambung kepada ayahnya ketika tidak ada sesuatu yang mengarahkan untuk menentangnya. Akan tetapi jika terdapat sesuatu yang memicu bahwa anak tersebut diyakini bukan merupakan anak hasil hubungan pernikahan antara suami dan istri, maka suami wajib untuk mengelak bahwa anak tersebut merupakan anaknya, seperti anak yang terlahir dari hasil perselingkuhan istri. 

Seorang anak yang terlahir dapat dipastikan anak sang suami atau bukan melalui 4 golongan:
Anak yang dinyatakan bukan anak sang suami secara dzahir dan batin tanpa membutuhkan sumpah li'an, yakni anak yang terlahir kurang dari 6 bulan dihitung mulai memungkinkan untuk terjadinya hubungan intim, atau terlahir setelah lebih dari 4 tahun dihitung dari akhir memungkinkan terjadinya hubungan intim. 

Mengikuti nasab suami secara dzahir, baik hukum waris atau yang lainnya. Namun suami wajib untuk mengelaknya melalui sumpah li'an, yakni anak yang terlahir lebih dari enam bulan atau kurang dari empat tahun, namun suami yakin atau mempunyai prasangka yang kuat bahwa anak tersebut bukan anaknya, seperti ketika ia belum berhubungan intim sama sekali dengan istrinya, atau terlahir kurang dari enam bulan dariubungan intim, atau terlahir lebih dari empat tahun pasca hubungan intim, atau terlahir setelah enam bulan namun setelah terjadinya pensterilan dengan kurun waktu satu haid serta terdapat tanda-tanda sang istri telah selingkuh. Sang suaml dihukumi berdosa ketika tidak mengelak bahwa anak tersebUt bukan anaknya. 

Mengikuti nasab suami secara dzahir, namun suami tidak wajib untuk mengelaknya, yakni ketika sang suami tidak mempunyai prasangka yang kuat bahwa anak tersebut bukan anaknya, karena terdapat beberapa ketentuan;
Suami telah melakukan pensterilan dengan kurun waktu satu haid. 

Sang anak terlahir setelah enam bulan. Tidak terdapat tanda-tanda sang istri telah selingkuh. 

Mengikuti nasab suami dan haram untuk mengelaknya bahkan terdapat hadis yang menyatakan kufur terhadap pelakunya, yakni ketika ia mempunyai prasangka yang kuat bahwa sang anak ialah anaknya atau ia masih bimbang karena sang anak terlahir setelah enam bulan atau lebih sampai empat tahun, dan ia belum mensterilkan sang istri setelah hubungan intim.  

Kewajibanuntuk mengelak atau mengakui sang anak berlandaskan hadisnya abi Hurairah.

"Perempuan manapun yang menggolongkan seorang anak pada sebuah komunitas yang bukan golongannya, maka Allah tidak akan memberkatinya serta tidak akan memasukkan kesurganya. Laki-laki manapun yang mengelak anaknya namun ia tetap memandangnya (mengakui bahwa ia anaknya) maka Allah akan menghalanginya dan mencelanya dihadapan pendahulu-pendahulu dan setelahnya” (HR. Abu Daud, al-Nasai, İbn Majah, İbn Hibban, alHakim, dan al-Baihaqi)

Perincian diatas dapat menyimpulkan dan menjawab permasalahan di atas dengan perincian jika maksud menerima adalah tinggal bersama, maka boleh dan tidak bersalah bila tidak menimbulakan persepsi nasab anak zina mengikutinya. Namun, jika maksud menerima adalah istilhâq (pengakuan nasab), maka tidak boleh / haram, jika yakin anak tersebut adalah anak zina, atau prasangka yang kuat bahwa anak tersebut adalah anak zina.

Jika maksud menerima adalah tinggal bersama, maka boleh dan tidak bersalah bila tidak menimbulkan persepsi nasab anak zina mengikutinya. Namun, Jika maksud menerima adalah istilhaq (pengakuan nasab), maka haram, jika yakin anak tersebut adalah anak Zina, atau prasangka yang kuat bahwa anak tersebut adalah anak Zina

 Rujukan

المجموع (ج۲۱, ص ٣١٢)

أما إذا كان الولد غير ثابت النسب من أبيه بأن كان ولد زنا فإنه لا يلحق به نسبه أصلا فلا حاجة به إلى نفيه

المجموع (ج۱۷ ص ٤١١)

وإن أتت امراته بولد يلحقه في الظاهر بحكم الإمكان وهو يعلم أنه لم يصبها وجب عليه نفيه باللعان لما روي أبوهريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أيما امرأة أدخلت على قوم من ليس منهم  فليست من الله في شيء ولن يدخلها ال له تعالى جنته فلما حرم الني صلى ال له عليه وسلم على المرأة أن تدخل على قوم من ليس منهم دل على أن الرجل مثلها ولأنه إذالم ينفه حعل الأجنبي مناسبا له ومحرما له ولاولاده وزاحما لهم في حقوقهم وهذا لا يجوز

أنوار المسالك (ص ٢٤٥)

(ومن أتت زوجته بولد لحقه نسبه إن أمكن أن يكون منه بأن تأتي به بعد ستة أشهر ولحظة من حين العقد ودون أربع سنين) أي أقل منها وتحسب المدة [من حين إمكان الاجتماع معها إذا أمكن وطؤها ولو على بعد وإن لم يعلم أنه وطئ] إلى أن قال - (ومتى تحق ق الزوج أن الولد الذي ألحقه الشرع به) نظرا إلى الإمكان وهو قاطع أنه (ليس منه بأن علم أنه لم يطأها أبدا لزمه نفيه باللعان) ثم إن علم زناها أو ظنه ظنا مؤكدا قذفها ولاعن لنفيه وجوبا فيهما والا أقتصر على النفي باللعان لجواز كونه من شبهة (وإن لم يتحقق أنه من غيره حرم عليه نفيه وفذفها( لأنه لاحق بفراشه ولا عبرة بما يجده في نفيه

الباجوري (ج ٢ ص ١٦٥)

قوله (وإن كان هناك ولد ينفيه إلخ) وإنما يحتاج إلى نفيه إن لم يكن معلوما عند الناس أنه ليس منه فإن كان معلوما عندهم آنه ليس منه كزوج مسوح أو صغير لم يحتج لنفيه لنه منفي عنه شرعا

كفاية الأخيار (ج ٢ ص ١٢١)

وإن كان هناك ولد يتيقن أنه ليس منه وجب عليه نفيه باللعان هكذا قطع به الجمهور حتى ينتفي عنه من ليس منه وفي وجه لا يجب النفي- إلى أن قال - قال الأئمة وإنما يحصل اليقين إذا لم يطأها أصلا أو وطئها وأت ت به لأكثر من أربع سنين من وقت الوضع أو لأقل من ستة أشهر

البجيري على الخطيب (ج ٤ ص ۳۲) الجامع

أما مجرد الإشاغة فقط أو القرينة فقط فلا يجوز له اعتماد وهحد منهما أما الإشاغة فقد يشيعه عدوله أو من يطمع فيها فلم يظفر بشيء وأما مجرد القرينة المذكورة فلأنه ربما دخل عليها لخوف أو سرقة أو طمع أو نحوذلكوالأولى له كما فى زوائدالروضة أن يسطر عليها ويطلقهاإنكارهالمافيه من سترالفاحشة وإقالةالعثرة هذا حيث لا ة لد ينفيه فإن كان هناك ولد ينفيه بان علم أنه ليس منه لومه نفيه لأن ترك النفي يتضمن استلحاقه واستلحاق من ليس منه حرام كما يحر منفى من هو منه

بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي (ص ٢٣٥-٢٣٦)

(مسألة ي ش) نكح حاملا من الزنا فولدت کاملا كان له أربعة أحوال إما منتف عن الزوج ظاهرا وباطنا من غير ملاعنة وهو المولود لدون ستة أشهر من إمكان الإجتماع بعد العقد أولأكثر من أربع سنين من اخر إمكان الاجتماع وإما لاحق به وتثبت له الأحكام إرثا وغيره ظاهرا ويلزمه نفيه بأن ولدته لأكثر من الستة الخ.

Berlangganan via Email