Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Berhubungan Badan Dengan Istri Pasca Perzinaan?!

Berhubungan Badan Dengan Istri Pasca Perzinaan

 Demi memenuhi kebutuhan di saat sulitnya mata pencaharian di bumi pertiwi, banyak WNI yang terpaksa meninggalkan negeri tercinta untuk mengais rezeki di negeri orang. Dinilai, pendapatan bekerja di negeri seberang lebih menjanjikan hasil yang maksimal.

Hasil maksimal selalu berbanding lurus dengan resiko yang besar. Demikian pula dalam hal ini. Fakta membuktikan, banyak Tenaga Kerja Wanita (TKW) dari Indonesia menjadi korban pelampiasan nafsu birahi para majikan. Tidak sedikit pula yang ternyata dipekerjaan sebagai "penjual tubuh” atau pemuas nafsu para buaya. Padahal, tak sedikit diantara mereka yang telah bersuami.

Saat TKW yang menjadi pemuas nafsu buaya asing pulang ke Tanah Air, bolehkah suami berhubungan intim dengannya? Padahal TKW baru saja melakukan hubungan yang tidak sah dengan orang lain (zina).
Jawaban atas problematika yang dipaparkan sangat terkait dengan masalah 'iddah. Yakni masa penantian seorang wanita untuk memastikan rahımnya sedang kosong dan ia tidak sedang hamil Kewajiban 'iddah oleh wanita dipicu oleh beberapa sebab, diantaranya; meninggalnya sang suami, perceraian, dan wathi syubhah (kekeliruan melakukan hubungan).

Selama menjalani masa 'iddah seorang wanita tidak diperbolehkan menikah atau melakukan hubungan suami istri. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi pengkaburan nasab (jalur keturunan) pada anak yang dilahirkannya. Sebab, hubungan nasab memiliki kaitan hukum yang tidak sedikit, seperti persoalan waris, mahram, dan wali nikah. Karenanya, 'iddah hanya diwajibkan bagi wanita yang telah menjalani hubungan yang sah dalam bingkai pernikahan.

Lain halnya dengan perzinaan, karena zina adalah perbuatan yang hina, hubungan yang dilakukan dalam wadah perzianaan pun tidak dapat menghubungkan nasab sang jabang bayi dengan ayahnya (lelaki yang berbuat zina dengan ibunya). Berpijak pada sabda Rasulullah saw saat menyelesaikan perselisihan antara Sa'ad ibn Abi Waqqash dan 'Abd ibn Zam'ah atas status nasab seseorang. Konon, keduanya berselisih tentang nasab seorang anak, Sa'ad ibn Abi Waqqash mengklaim bahwa anak itu adalah putra saudaranya yang bernama 'Uthbah ibn Abi Waqqash. Sedangkan 'Abd ibn Zam'ah mengklaim bahwa anak tersebut dilahirkan dari ibu yang menjadi istri ayahnya. Demi menguatkan pendapat, Sa'ad meminta agar Rasulullah melihat kemiripan anak itu dengan 'Uthbah İbn Abi Waqqash. Rasulullah lantas memandangnya, dan meskipun Rasulullah menemukan kemiripan yang tampak jelas, namun Rasulullah memenangkan 'Abd ibn Zam'ah dalam perselisihan tersebut seraya beliau bersabda:
"Anak İni milikmu wahai abd ibn zam 'ah. Nasab anak adalah milikfirasy (suami atau sayyid; majikan), dan bagi orang yang berzina akan terhalang (dari nasab). (HR. al-Bukhari & Muslim)

Hadits ini menjadi pijakan mainstream fuqaha bahwa nasab anak zina tidak bisa terhubung dengan ayahnya, dengan segala konsekuensi dalam persoalan waris, wali nikah, mahram, dll. Namun, segelintir intelektual muslim tetap berpendapat sebaliknya.

Berdasar pendapat mainstream fuqaha, wanita yang melakukan zina tidak wajib menjalani masa 'iddah setelahnya. Dengan demikian, setelah berzina atau diperkosa wanita diperbolehkan melakukan hubungan dengan suami sahnya, ia juga boleh melaksanakan akad nikah jika ia belum bersuami. Sedangkan menurut pendapat yang lain, 'iddah tetap harus dijalani olehnya.
Hubungan suami istri boleh dilakukan meskipun istri baru saja melakukan zina. Sebab, zina tidak mewajibkan seorang wanita menjalani masa 'iddah mengingat zina tidak menjadi penyebab tersambungnya nasab anak dengan bapak, sehingga tidak dikhawatirkan terjadi percampuran nasab pada anak yang dilahirkan.

Rujukan

حاشية البجيرمي على الخاطب ( ج ٤ ص ٤٦)٠
بغية المستر شدين للسيد باعلوى الحضرمي (ص ٢٠١)٠
الفقه الاسلامي وادلته (ج ٩ ص ٧١٧٥-٧١٧٧)٠
شرح رياض الصالحين (ج١ ص ٣٠٢)٠

Post a Comment for "Berhubungan Badan Dengan Istri Pasca Perzinaan?!"